freedom institute » CENTER FOR DEMOCRACY, NATIONALISM, AND MARKET ECONOMY STUDIES
DISKUSI
Diskusi Kampus: ”Pemilu 2009: Jalan Demokratis Menuju Kesejahteraan”

Rabu, 1 April 2009
Universitas Nasional, 31 Maret 2009, pukul 13.00 – 16.00
Berbicara sebagai salah satu narasumber dalam diskusi publik bertema ” Pemilu 2009: Jalan Demokratis Menuju Kesejahteraan " yang diselenggarakan di Aula Blok I Universitas Nasional, Jl. Sawo Manila, Pejaten, Pasar Minggu, pada Selasa, 31 Maret 2009, pukul 13.00 – 16.00 yang lalu,
Rizal Mallarangeng kembali menegaskan pandangan yang selama ini cukup sering ia kemukakan bahwa demokrasi kompatibel dengan kesejahteraan, demokrasi sangat mungkin membawa kesejahteraan.
Title of Event: Public Discussion “Peran Negara dalam Krisis Kapitalisme”

Senin, 2 Februari 2009
“There is always an opportunity behind every event,” noted Hamid Basyaib, as he opened the night’s discussion on the role of government in economic crisis (“Peran Negara dalam Krisis Kapitalisme”). Acting as the moderator, Hamid argued that crisis is a chance for the capitalist economy to become more efficient thru learning. At the same time, capitalism’s rival, communism, crumbles in the face of economic crisis and is unable to adapt to new challenges.
“Relasi Modal dan Kekuasaan Pasca Soeharto”

Jum'at, 27 Juni 2008
Hubungan modal dan kekuasaan pasca Soeharto perlu dibaca dari perspektif yang lebih mampu menangkap dan menjelaskan fakta-fakta baru dalam perkembangan ekonomi dan politik di tanah air. Di samping masih percaya pada kekuatan gagasan, seperti yang dipaparkan dalam disertasinya...
Mencermati Pragmatisme Rezim Subsidi

Jum'at, 27 Juni 2008
Pengamat ekonomi Ari Perdana (tengah) dan Arianto Patunru (kanan) dalam forum seri diskusi ekonomi politik yang diadakan pada hari Kamis, 29 Mei, yang dimoderatori Direktur Program Hamid Basyaib (kiri). Kedua ekonom antara lain membahas kondisi-kondisi di mana, kapan, dan bagaimana subsidi bisa dibenarkan...
Novel ”Snow”

Senin, 5 November 2007
Pamuk adalah orang Turki. Kita tidak akan membicarakan Turki, tapi Foucault dan sastra. Tapi perlu saya informasikan bahwa, Turki ini dalam kancah kesastraan Indonesia atapun dalam pemikiran merupakan negara yang paling sedikit dikenal. Tahun 80-an...
The Islamist

Rabu, 24 Oktober 2007
Malam ini kita akan berdiskusi tentang buku Ed Husain. Seorang Palestina Banglades. Pada bulan Mei dia menerbitkan buku “The Islamist”. Buku ini mengundang kontroversi dari kalangan Muslim Inggris maupun di luar Inggris...
Atheisme

Rabu, 24 Oktober 2007
Kalau saudara amati, buku-buku seperti buku Sam Harris,
Letter to a Christian Nation, kira-kira mau menyatakan bahwa semakin kau cari ke dalam agama, intoleransi yang kau temukan. Jadi untuk apa? Kira-kira begitu. Dan juga cerminan dari situasi beragama sehingga buku-buku ini laku.
Islam dan Negara Sekuler: Menegosiasikan Masa Depan Syariah

Senin, 2 Juli 2007
Kebebasan beragama meniscayakan adanya kemungkinan untuk tidak-percaya. Jika saya tidak boleh untuk disbelieve, saya tidak dapat believe. Jika believe merupakan satu-satunya pilihan, maka itu tidak bisa dianggap sebagai believe. Dengan kata lain, kemungkinan heresi merupakan sesuatu yang inheren dalam pengalaman keagamaan. Jika saya tidak boleh menjadi seorang yang heretik, maka saya tidak mungkin menjadi believer. Secara logis hal itu harus berjalan bersama-sama. Tidak bisa salah satunya yang dipaksakan. Dengan demikian, negara dan Islam harus secara institusional dipisahkan. Negara tidak boleh bersifat Islam. Negara harus netral. Negara akan menjadi korup jika ia mengklaim suatu keyakinan keagamaan tertentu.
What Went Right? Islamic Mobilization in Indonesia and Malaysia

Kamis, 21 Juni 2007
Saya mempelajari Islam di Indonesia, Turki dan Malaysia. Dan banyak hal positif terjadi di ketiga negara itu. Pertanyaan dalam tesis saya adalah mengapa beberapa negara Islam bisa menjalankan gerakan politik yang damai sementara negara-negara lain tidak dapat. Studi ini berbeda dari studi-studi yang bertolak dari What Went Wrong, karena studi ini bertolak dari What Went Right. Studi Saya meneliti peran negara dalam masalah ini.
Diskusi "Suara Orang Beriman"

Senin, 5 Maret 2007
Terima kasih banyak teman-teman saya yang ikut diskusi ini.
Saya mungkin akan berbicara baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Inggris. Saya sudah lama di Indonesia, tapi belum lancar juga. Disertasi saya itu berjudul “suara orang beriman: agama dan partisipasi politik di Indonesia masa kini.” Saya di Jakarta sudah 1 tahun lebih dan banyak sekali mendapatkan dukungan dalam proyek saya. Saya berterima kasih terutama pada Freedom Institute. Juga The Indonesian Institute, LIPI. Saya juga ingin berterima kasih pada Pak Rizal Mallarangeng, Saiful Mujani, dan Pak Silitonga.
Masa Depan Sempurna: Tantangan dan Janji Globalisasi

Senin, 12 Februari 2007
Petikan acaranya: Arianto Patunru:
Terima kasih bung Hamid.
Apa yang akan saya katakan di sini sudah tercatat semua dalam kata pengantar. Maka saya akan singkat saja. Jika saya dikatakan radikal, saya tidak akan menyangkal hal itu. Saya berada di sebelah kanan.
Ketika orang mengkritik globalisasi, mulai dari yang berbobot sampai yang hanya sinis, semua bisa dilayani. Dan tiap kali berdebat, saya semakin yakin bahwa globalisasi lebih banyak manfaatnya. Hanya saja mungkin kita tidak bisa mengelola globalisasi lebih baik.
Cuma mungkin kegagalan ini kemudian menjadi alasan bagi semacam eskapisme, pelarian dari binatang yang bernama globalisasi.
Diskusi "Pro dan Kontra Liberalisme di Indonesia"

Kamis, 18 Januari 2007
Kenapa Paramadina dalam rangka 20 tahun berdirinya ini mensponsori satu diskusi tentang liberalisme. Saya duga ada beberapa hal disini. Pertama, Paramadina memang sering dikait-kaitkan dengan satu institusi yang menjajakan atau memasarkan pikiran-pikiran liberal, yang kadang-kadang juga kemudian dikaburkan dengan liberalisme. Kedua, tema liberal dan liberalisme ini, tema yang sering sekali dibincangkan orang dan dibicarakan di mana-mana, tapi dengan pengertian yang serba kabur.
Memperbincangkan Kembali Pemikiran dan Teori Clifford Geertz

Rabu, 6 Desember 2006
Saya bertemu dengan Clifford Geertz sekitar 2 – 3 kali. Orangnya ganteng tapi pendek sekali. Selain dengan orang ini, saya juga kagum dan pernah bertemu dengan Samuel Huntington.
Saudara-saudara sekalian, siapa sebenarnya Clifford Geertz itu. Dia itu ingin menjadi penulis novel yang terkenal. Dan ini ia utarakan dalam tulisan-tulisannya. Masuk Universitas Belajar Sastra Inggris. Tapi grammar dianggap membatasi, lalu dia belajar filsafat. Dan akhirnya, pada tingkat Pasca Sarjana dia belajar Antropologi, Sosiologi, Psikologi Sosial, Psikologi Klinikal, dan Statistik. Dia percaya bahwa sebagian besar kehidupannya ditentukan oleh faktor “Kebetulan.” Semuanya kebetulan. Ia juga “kebetulan” saat sekolah dikelilingi nama-nama seperti Kluckhohn, Edward Shils, David Apter, Cora Dubois, di Harvard dan MIT.
Kemudian muncul pertanyaan, apa Modjokuto itu suatu “Kebetulan”? Menurut Geertz ini suatu kebetulan. Tapi saya kira ini bukan kebetulan. Pada 1950-an, terjadi perang Korea mulai. Infanteri dan artileri Korea Utara tumpah melintasi Garis Paralel 38 Derajat. Kemudian, Tentara Merah Republik Rakyat China merebut Hainan. Lalu Ho Chi-Minh mengobarkan perang kemerdekaan Vietnam dan mempersulit posisi Perancis. Kemudian Sihanuk gagal menjaga keseimbangan kekuatan antara militer Kamboja yang korup lagi pro-Amerika dan Gerilyawan Khmer Merah PolPot.
Evolusi Hak dalam Teori Liberal

Selasa, 7 November 2006
Ian Shapiro adalah pemikir politik atau filosof politik yang terkemuka. Dia sangat terkenal dan belakangan ini menulis banyak buku. Sekitar 8 – 9 buku. Buku ini adalah buku penting dalam filsafat politik.
Kalau kita lihat judul buku ini, tampak bahwa Shapiro sangat ambisius. Ia berusaha menjelaskan tentang evolusi hak, dan ini adalah tema penting dalam filsafat politik. Dia berfokus pada 4 filosof, yaitu Rawls, Nozick, Locke, dan Hobbes. Jadi ada beberapa filosof penting yang juga mendiskusikan hak tapi tidak dibahas oleh Shapiro, seperti Kant dan Hegel.
Menurut Shapiro, kalau kita bicara tentang hak, ada 4 pertanyaan penting yang harus dijawab: pertama adalah subyek hak. Kedua adalah substansi hak. Ketiga landasan hak. Keempat adalah tujuan hak, untuk apa hak itu diberikan atau dibela.
Manliness

Selasa, 7 November 2006
Pertengakaran malam ini saya rasa akan seru. Saya sendiri belum membaca bukunya. Tapi saya baca beberapa ulasannya dan saya cukup terkejut. Dan indikator yang cukup baik tentang buku ini Anda bisa baca dari makalahnya Gadis Arivia, sebuah catatan yang penuh tanda seru, dari awal hingga akhir. Secara umum, bagi Gadis, Mansfield ini benar-benar tidak mengerti peradaban mutakhir, bahwa evolusi pemikiran dan aktivisme feminis juga sudah bergelombang-gelombang, dan dia tidak tahu. Dan jika kita baca tulisan Garry Willis di
New York Review of Book, nadanya sama. Mansfield berusaha mencari legitimasi dari literatur-literatur klasik sampai yang awal misalnya Aristoteles dan Plato, dan bagi Garry Willis dia salah. Banyak yang tak tepat.
Indeks Kebebasan Ekonomi

Rabu, 18 Oktober 2006
Moderator:
Selamat malam. Assalamualaikum. Jika minggu lalu kita berbicara tentang politik kelas menengah di Latuharhari 41, maka yang sekarang ini kita akan berbicara tentang Economic Freedom. Hal ini jarang dibicarakan, kecuali hal-hal spesifik seperti kenaikan BBM dan dampaknya, dsb.
Rasionalitas Islam Radikal
Rabu, 18 Oktober 2006
Moderator:
Selamat malam. Assalamualaiku. Diskusi kita kali ini adalah diskusi pertama dalam rangkaian diskusi puasa Freedom-Institute tahun ini. Sekarang ini adalah diskusi srtikel jurnal dan temanya adalah “Rasionalitas Islam Radikal.” Yang mau dijawab artikel ini adalah mengapa orang mau mengorbankan diri, bunuh diri atas nama organisasi yang dalah hal ini kebetulan Islam.
Asas Moral dalam Politik
Ahad, 3 September 2006
Trisno S.:
Selamat malam. Malam ini kita akan mendiskusikan buku "Asas Moral dalam Politik". Sebuah buku yang diterjemahkan oleh Freedom Institute dan akan diluncurkan bulan ini. Sebuah buku karya Ian Shapiro. Buku ini menurut penulisnya adalah semacam pengantar untuk mereka yang baru menggeluti filsafat politik. Tapi kalau kita membacanya dengan serius, ini bukan suatu pengantar sederhana sebagaimana lazimnya buku pengantar, tapi merupakan suatu uraian serius tentang teori politik kontemporer untuk menjawab suatu pertanyaan dasar yang membingkai buku ini: Kapan sebuah pemerintahan berhak memperoleh kesetiaan kita dan kapan tidak layak. Ini pertanyaan inti yang menjadi pergulatan Shapiro sepanjang bukunya.
Alexis de Tocqueville: Revolusi, Demokrasi, dan Masyarakat
Ahad, 3 September 2006
Hamid:
Selamat sore. Kesempatan kali ini kita akan berdiskusi tentang Alexis de Tocqueville. Tapi sebelumnya saya akan umumkan diskusi-diskusi berikutnya, silahkan anda catat: Tanggal 8 Maret kita akan diskusi buku "Amerika dan Dunia"; Tanggal 26 Maret kita akan diskusi buku "Memperkuat Negara"; dan pada tanggal 5 April akan ada diskusi buku "Guncangan Besar"; dan terakhir tanggal 22 April akan ada diskusi buku "Asas Moral dalam Politik". Semua bukun ini diterbitkan oleh Freedom Institute. Diskusi-diskusi ini adalah bagian dari peluncuran buku, tapi yang lebih penting bukan peluncuran bukunya tapi buku itu dibaca.
Nah, diskusi sekarang adalah upaya pembacaan itu, dan kita wakilkan pembacaan itu pada direktur eksekutif Freedom Institute, Rizal Mallarangeng. Tapi sebelumnya saya minta wakil dari Kedutaan Besar Amerika untuk memberi sambutan singkat. Saya perlu sebut di sini bahwa semua buku itu disponsori oleh Kedubes Amerika. Ibu Donna Silakan.
Republik dan Kebebasan Politik
Ahad, 3 September 2006
Seperti kita tahu negara kita berbentuk republik, tanpa kita tahu apa itu republik. Kita juga mengenal republik Plato. Di sana Plato memimpikan kepemimpinan seorang King Philosopher, yang menurut saya jauh dari kepentingan umat. Konsep inilah yang diterapkan oleh Khomeini ketika ia membangun republik Islam Iran. Di sana ada wilayatul faqih.
Untuk itulah diskusi kita kali ini saya kira sangat menemukan konteksnya. Saudara Sahal akan membincangkan republik dari sisi liberal. Sedangkan saudara Robertus Robert akan berbicara republik dari sisi republikan.
Diskusi dengan Paul Knitter

Selasa, 13 Juni 2006
Pada Rabu 31 Mei 2006 silam, Freedom Institute menyelenggarakan diskusi publik bertema “Tantangan Pluralisme bagi Agama-Agama.” Diskusi ini menghadirkan dua pembicara, Professor Paul Knitter, seorang ahli studi agama dari Xavier University, Cincinnati, Amerika Serikat, dan Dr Ioanes Rahmat, Dosen Sekolah Tinggi Teologia (STT) Jakarta. Diskusi berlangsung dalam bahasa Inggris.
Guncangan Besar

Rabu, 12 April 2006
Buku ini menurut saya membahas sesuatu yang sangat ambisius. Dia membahas tema lama, yakni perubahan sosial. Dia ingin menerangkan mengapa masyarakat mengalami guncangan besar, dan bagaimana dan mengapa masyarakat berhasil me-reintegrasi dirinya, menjaga kembali
social order. Sejak tahun 1960-an kita memasuki suatu revolusi teknologi, di mana kita masuk ke dalam masa pasca-industri, yakni era informasi. Dan ini mempunyai dampak pada level mikro masyarakat, misalnya keluarga. Kehidupan keluarga mengalami kemerosotan besar. Tingkat perceraian tinggi.
Memperkuat Negara

Kamis, 6 April 2006
Buku ini tipis tapi penting karena ia bercerita tentang bagaimana membangun negara. Rizal Mallarangeng dengan cukup bagus menjelaskan dalam pengantar buku ini bahwa ada semacam
switch dalam pemikiran Fukuyama secara garis besar. Fukuyama, sebagai seorang liberal, biasanya menegaskan tentang pentingnya negara yang minimal. Namun dalam buku ini Fukuyama menjelaskan tentang pentingnya negara
Amerika dan Dunia

Kamis, 23 Maret 2006
Topik ini menarik karena bagaimanapun dalam hal
policy making, pengaruh Amerika akan sangat kuat terutama untuk beberapa tahun mendatang di Asia Tenggara. Apakah masih penting cengkeraman Amerika di kawasan ini atau apakah kawasan ini sudah tidak perlu lagi diperhitungkan. Mereka mengatakan bahwa Asia Tenggara bisa menjadi
breeding ground dari Al-Qaedah dan bagaimanapun kehadiran Amerika tetap kita butuhkan.
Pelaku Berkisah

Jum'at, 10 Februari 2006
Sebuah buku sejarah ekonomi yang unik, yang melacak perkembangan ekonomi Indonesia bahkan sejak sebelum ORBA. Di buku ini ada Pak Syafruddin, dan macam-macam orang dari masa sebelum ORBA.
Pak Thee mewawancarai orang-orang ini, namun ada beberapa orang yang disebut Berkley Mafia tidak masuk, misalnya Pak Widjoyo dan Pak Ali Wardana.
Unholy Alliance

Selasa, 1 November 2005
Ada kontroversi besar yang membelah masyarakat Amerika menjadi dua. Ada gejala menarik yang diamati oleh penulis buku ini, yaitu ada semacam aliansi dari kaum radikal Islam dengan kaum kiri. Makanya disebut Unholly Alliance.
The Sacred and The Secular

Selasa, 1 November 2005
Untuk diskusi hari ini, kita memiliki dua pembicara. Yang pertama adalah Doktor Saiful Mujani sebagai Direktur Riset Freedom Institute dan Direktur Lembaga Survei Indonesia.
Dengan kapasitas dan kompetensinya tersebut mungkin beliau akan sangat mampu untuk menjelaskan buku ini.
Many Globalization: Cultural Diversity in Contemporary World

Jum'at, 21 Oktober 2005
Pembicara:Ignas Kleden, Ignatius Wibowo
Moderator: Nirwan Dewanto
Malam ini kita akan mendiskusikan sebuah buku yang diedit oleh Peter L. Berger dan Samuel P. Huntington dengan judul Many Globalization: Cultural Diversity in Contemporary World. Seperti dikatakan oleh buku ini bahwa globalisasi itu sebenarnya tidak berjalan satu arah, atau berjalan secara monolitik.
Mengapa Liberalisme Perlu?

Ahad, 28 Agustus 2005
Liberalisme merupakan sebuah gerakan dan paham pemikiran yang mempunyai tujuan utama memperbesar kebebasan individu dan mendorong kemajuan sosial. Liberalisme dan demokrasi sekarang ini lazim dianggap sebagai dua hal yang tak terpisahkan dan terelakkan, terutama dalam tata pemerintahan serta tata masyarakat.
Tuhan Pasca-Tsunami

Kamis, 27 Januari 2005
Hamid Basya'ib (Moderator, Peneliti Yayasan Aksara): Assalamu'alaikum dan Selamat
malam! Selamat panjang umur, terutama buat Ulil Abshar-Abdalla. Seperti disebutkan
Nong Darol Mahmada tadi, ini untuk kali pertamanya Ulil merayakan ulang tahun
seumur hidupnya.
Lima Tahun Reformasi, Sampai di Manakah Kita?

Senin, 19 Mei 2003
Freedom Institute dan Majalah TEMPO menyelenggarakan seminar tentang evaluasi 5 tahun reformasi. tampil sebagai pembicara: Nono Makarim, Andi Mallarangeng, M. Chatib Basri, dan Ignas Kleden, dengan moderator Rizal Mallarangeng.
©2003-2009 Freedom Institute, Indonesia. Hak cipta dilindungi Undang-undang.