UNDANGAN DISKUSI
“Mengukur Pencapaian dan Tantangan Demokrasi”
Demokrasi adalah alat untuk menuju kesejahteraan. Pencapaian demokrasi sudah sering diukur secara berkala. Hasilnya sering pula memunculkan diskusi hangat, bahkan tak jarang polemik yang berkepanjangan tentang apakah demokrasi benar-benar sistem yang terbaik dari semua yang ada.Baru-baru ini Friedrich Naumann Stiftung memperkenalkan indeks pencapaian demokrasi yang disebut Freedom Barometer, yang menariknya menempatkan Indonesia sebagai negeri paling bebas No. 5 di Asia Tenggara, namun di bawah Singapura – sebuah negeri yang sebenarnya tidak umum dikenal sebagai negeri bebas.
BERITA SEBELUMNYA
Zaim Rofiqi Staf Freedom Institute
Para penerjemah dari bahasa Inggris ke Indonesia mungkin telah terbiasa menghadapi masalah perbedaan struktur MD (menerangkan-diterangkan) dan DM (diterangkan-menerangkan) yang sering kali menyulitkan sang penerjemah dalam menghasilkan terjemahan yang bagus, tidak membingungkan, dan tidak bertele-tele.
Masalah perbedaan struktur MD-DM yang potensial menghasilkan terjemahan yang membingungkan tersebut dapat dilihat jika seorang penerjemah bertemu, misalnya, dengan kalimat seperti ini: Mrs Barnds' studio, appropriately named The White Doll House, is a favorite "dropping in place" for the local ladies who participate in classes to learn the fine art of doll making (dikutip dari ....
Oleh: Didiet Budi Adiputro*)Selama ini banyak sekali orang bicara mengenai liberalisme, mulai dari aktivis, politisi, mahasiswa, hingga masyarakat biasa. Ya, liberalisme adalah kata yang cukup populer di Indonesia. Sayangnya bukan populer dalam arti baik , tapi justru lebih banyak dipahami sebagai sebuah momok yang menakutkan: kebebasan tanpa batas, pro-Barat, ketidakadilan, dan lain sebagainya.
Segala sesuatu yang mereka tuduhkan terhadap liberalisme itu berasal dari tradisi intelektual kita yang bercorak sosialistik. Masalah utama berasal dari ketidakpahaman mereka terhadap ide ini. Dalam sebuah sesi workshop berjudul ”Pengantar terhadap Liberalisme,” Dr. Luthfi Assyaukanie menjelaskan bahwa makna dasar liberalisme sebenarnya adalah generous atau orang yang baik dan murah hati. Liberalisme pada intinya memfokuskan pada kepentingan individu manusia. Sangat jauh dari bayangan yang dikhawatirkan orang selama ini.
Program baru Freedom Institute untuk mahasiswa, Akademi Merdeka, terselenggara di Lido Lakes Resort Hotel hotel selama tiga hari mulai Jumat 26 Februari hingga Minggu 28 Februari. Duapuluh delapan peserta dari sebelas universitas terpilih dari sekitar 100 pendaftar untuk mengikuti program berformat peserta aktif ini.
Dua narasumber dari disiplin ilmu politik dan ekonomi, Luthfi Assyaukanie (Freedom Institute) dan Poltak Hotradero (PT Recapital), mengisi acara ini dua seri ceramah. Selanjutnya aktivitas diskusi, kerja kelompok, dan presentasi peserta – yang kemudian dikomentari para narasumber secara konstruktif – dipandu oleh M. Husni Thamrin dan Adinda T, Muchtar, masing-masing dari Friedrich Naumann Stiftung dan The Indonesia Institute.
28 Januari 2010 kemarin, tepat 100 hari usia pemerintahan SBY-Boediono. Berbagai kalangan menyoroti masa ini untuk melihat bagaimana kira-kira kinerja pemerintahan ini 4-5 tahun ke depan.
Momentum 100 hari pertama kinerja SBY-Boediono inilah yang coba dicermati oleh Freedom Institute dan Friedrich Naumann Stiftung (FNS) dengan menggelar diskusi publik "100 Hari SBY dan Arah Ekonomi Indonesia,” pada Selasa, 2 Februari 2010, pukul 18.00-21.00. Dua orang pembicara ditampilkan dalam diskusi ini: Dr. M. Chatib Basri, Staf Ahli Menteri Keuangan, dan Dr. Umar Juoro, Peneliti Senior The Habibie Centre. Diskusi ini dipandu langsung oleh Direktur Eksekutif Freedom Institute: Dr. Rizal Mallarangeng.
VIVAnews - Pasca maraknya desakan politik terkait kasus Century, Pemerintah diperkirakan tidak memiliki keberanian mengambil kebijakan tidak populis seiring menguatnya political capital selama beberapa waktu terakhir.
"Pemerintah tidak mempunyai keberanian untuk ambil tindakan tidak populis," ujar Staf Ahli Menteri Keuangan M Chatib Basri dalam Diskusi Freedom Institute 100 Hari SBY dan Arah Ekonomi Indonesia di Wisma Proklamasi, Jalan Proklamasi, Jakarta, 2 Februari 2010.







