VIVAnews - Peneliti Senior The Habibie Center Umar Juoro menilai pencapaian program 100 hari ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II baru sebatas pemberian tanda check list terhadap rencana program serta administrasi, namun belum dirasakan masyarakat.
"Dari sisi pengamat dan pelaku ekonomi mereka tidak melihat hal itu dan masyarakat tidak perduli dengan peraturan yang dibuat," ujar Umar Juoro dalam Diskusi Freedom Institute 100 Hari SBY dan Arah Kebijakan Ekonomi di Wisma Proklamasi, Jakarta, Selasa malam, 2 Februari 2010.
Menurut Umar, pencapaian 100 persen kinerja KIB II yang sering didengungkan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa baru sebatas menyelesaikan tugas administratif, penyelesaian cetak biru (blueprint), serta membuat rencana-rencana program aksi. "Blueprint sudah jadi dianggap berhasil, masyarakat tidak melihat itu," katanya.
Umar menilai, pertumbuhan ekonomi nasional hanya dapat tercapai jika pemerintah turut memfasilitasi upaya mensejahterakan masyarakat. Sebab jika tidak ada pelibatan pemerintah, pertumbuhan ekonomi nasional hanya akan berada pada kisaran 5-6 persen.
Lebih jauh Umar menilai perekonomian nasional seharusnya didorong oleh prinsip demokrasi, desentralisasi, dan globalisasi. Pasalnya, ekonomi nasional saat ini sudah terintegrasi dengan ekonomi global dan regional.
Dia menambahkan, modal pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini belum terlau kuat karena hanya bergerak dengan mengandalkan sumber daya alami dan non traded services. "Kalau mau kuat, backbonenya seharusnya di sektor manufaktur, agrobisnis, dan pertambangan," katanya seraya menambahkan bahwa pentingnya program 100 hari adalah ketepatan pemerintah dalam menetapkan ekonomi politik di antaranya memberikan semacam proteksi pada sektor yang diperkirakan menciptakan pengangguran tinggi.
hadi.suprapto@vivanews.com
sumber: http://bisnis.vivanews.com/news/read/126373-_100_hari_sby_sebatas_check_list_program_
telah dibaca : 1878
Melanjutkan tradisi yang sudah berlangsung selama delapan tahun, kali ini Freedom Institute memberikan penghargaan tahunan di lima bidang berikut: kesusastraan, pemikiran sosial, kedokteran, sains, dan teknologi. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini ditambahkan satu hadiah khusus yang diberikan kepada peneliti muda di bawah 40 tahun.
Inilah para penerima PAB 2010:
Sitor Situmorang (bidang Kesusastraan)
Daoed Joesoef (bidang Pemikiran Sosial)
S. Yati Soenarto (bidang Kedokteran)
Daniel Murdiyarso (bidang Sains)
Sjamsoe’oed Sadjad (bidang Teknologi)
Ratno Nuryadi (Hadiah Khusus)
Kemarin (21 juni 2010) Freedom Institute telah menerima surat dari Sdr. Goenawan Mohamad, penerima Penghargaan Achmad Bakrie 2004 untuk kategori kesusastraan. Penghargaan ini diberikan untuk mengapresiasi karya, dedikasi dan pengabdian Sdr. Goenawan terhadap dunia sastra dan kebudayaan Indonesia. Lewat surat tersebut, Sdr. Goenawan mengembalikan penghargaan yang diterimanya kepada Freedom Institute.









