7 September 2010

freedom institute » CENTER FOR DEMOCRACY, NATIONALISM, AND MARKET ECONOMY STUDIES

banner

KEGIATAN FREEDOM INSTITUTE
Diskusi Buku
Many Globalization: Cultural Diversity in Contemporary World
(sebuah buku Peter L Berger dan Samuel P. Huntington)
DISKUSI RAMADHAN FREEDOM INSTITUTE
Tanggal dimuat: 21 Oktober 2005


Diskusi Many GlobalizationPembicara:Ignas Kleden, Ignatius Wibowo
Moderator: Nirwan Dewanto

Nirwan Dewanto Malam ini kita akan mendiskusikan sebuah buku yang diedit oleh Peter L. Berger dan Samuel P. Huntington dengan judul Many Globalization: Cultural Diversity in Contemporary World. Seperti dikatakan oleh buku ini bahwa globalisasi itu sebenarnya tidak berjalan satu arah, atau berjalan secara monolitik. Artinya, bergerak dari pusat ke pinggiran. Gerakan itu seperti gerakan terpusat. Tentu saja itu akibat dari kapitalisme mutakhir. Sebagaimana disarankan oleh buku ini, ia menampilkan banyak globalisasi yang merupakan hasil riset beberapa orang ahli di berbagai negara. Jadi, pengalaman globalisasi di berbagai negara.

Tentu saja sudah terlalu banyak yang bisa dibicarakan oleh judul ini, tetapi mungkin temuan-temuan di lapangan akan dapat memperkaya pendangan kita terhadap proses ini. Tentu kita semua sudah tahu bahwa globalization act, globalisasi bodaya atau kultural itu bergerak tidak sepadan atau tidak sama dengan globalisasi ekonomi sebagaimana ditonjolkan atau disiratkan oleh buku ini. Dan, juga dalam dua hal tersebut baik ekonomi maupun kultural, globalisasi bukan sebuah proses satu arah. Jadi, dia bisa bergerak dari pinggiran ke pinggiran atau dari pinggiran ke pusat. Hal ini sebenarnya tidak baru, kebetulan saya bergerak di lapangan kesenian. Aliran atau gerak dari pinggir ke pinggir itu sudah cukup lama disuarakan oleh teman-teman yang bergerak di seni rupa misalnya. Tetapi buku ini memberikan contoh yang banyak sekali. Nah, untuk itu kami mengundang Romo Ignatius Wibowo dan Bung Ignaz Kleden. Dua-duanya akan membahas buku ini berdasarkan sudut pandang dan keahlian masing-masing. Tanpa berpanjang kata saya akan langsung mempersilahkan kepada Romo Ignatius Wibowo. Saya kira beliau ini sudah seringkali menuliskan pandangannya tentang globalisasi, terutama karena beliau ahli Cina.

IGNATIUS WIBOWO Globalisasi bisa disoroti sekurang-kurangnya dari dua sudut. Pertama, dari sudut ekonomi. Saya medengar bahwa diceriterakan bahwa globalisasi itu sama dengan free trade, fund direct investment, dan aliran modal secara internasional. Kedua, teknologi, globalisasi sering dihubungkan dengan teknologi. Dalam arti bahwa dunia ini sekarang terhubung satu sama lain sehingga tidak ada satu tempat pun yang tidak dimasuki oleh komunikasi, entah telepon, entah handphone, entar internet, dan lain sebagainya. Ini bisa dilihat juga dari sudut teknologi transportasi. Hampir semua negara sekarang memiliki bandar udara yang bisa dikunjungi dengan mudah. Saya kira Anda semua mengetahui buku yang ditulis Michael Castels The Rise of Network Society. Buku ini memperlihatkan bahwa globalisasi menimbulkan network society.

Ketiga, yang sampai saat ini masih terus diperdebatkan adalah globalisasi dari sudut kebudayaan. Ini memang sedikit repot. Masih banyak perdebatan mengenai hal ini terutama yang berhubungan dengan cultural homogenization. Seolah-olah di dunia ini telah terjadi homogenisasi kebudayaan. Tadi sudah disinggung oleh saudara Nirwan bahwa dulu globalisasi itu dipahami sebagai gerakan satu arah: dari centre ke periphery, dari kebudayaan western menuju ke yang non-western. Orang melihat bagaimana penyebaran CNN, McDonalds, MTV. Dan sebaliknya jarang orang berbicara tentang penyebaran dari periphery ke centre.

Kemudian sekarang banyak yang mengatakan bahwa gerakannya tidak hanya dari tengah ke pinggir, tetapi juga dari pinggir ke tengah. Misalnya di Amerika mulai populer acara-acara tv yang dibuat dari Meksiko atau dari Brasil. Demikian pula di Portugal, ada acara yang dibuat dari Amerika Latin untuk tv-tv di Eropa. Dengan demikian bahwa homogenization of culture itu dalam arti apa? Apakah karena semua orang makan di McDonalds lalu sudah di-culture-kan?

Lalu juga ada perdebatan yang mencoba untuk menunjukkan bahwa, seperti tempat-tempat di tanah air kita, ada tenmpat-tempat yang tidak tersentuh oleh itu. Demikian pula yang terjadi di Afrika, Amerika Latin, Cina, dan lain sebagainya yang memang jauh dari pengaruh Amerikanisasi, misalnya. Dalam konteks inilah buku yang diedit oleh Peter L. Berger dan Samuel P. Huntington ini menjadi sangat menarik.

Ketika saya membaca buku ini saya sungguh merasa dikejutkan. Karena dengan kata pengantarnya Peter L. Berger membicarakn tentang empat macam kebudayaan global, istilah ini dari saya bukan dari Berger atau Huntigton, yaitu yang disebut business culture, faculty club culture, popular culture, dan social movement.

Yang pertama, business culture atau yang sering disebut Davos culture, mengacu pada sebuah kota di Swiss yang setiap awal tahun dipakai untuk pertemuan pebisnis atau endowment besar seluruh negara bersama semua pemimpin negara besar untuk berbicara tentang ekonomi dunia. Kelompok ini memang kelompok yang bergerak di bidang globalisasi ekonomi yang mendiskusikan ekonomi tingkat dunia. Mereka berbicara bagaimana mencegah resesi dunia, tentang investasi, tentang capital flows, dan lain sebagainya. Tetapi yang masuk dalam kelompok ini adalah semua pelaku bisnis; entah dari tingkat global atau lokal sejauh mereka terlibat dalam bisnis yang tidak bisa tidak bergerak ditingkat global. Mereka ini memperlihatkan kesamaan di seluruh dunia. Bahwa mereka lancar berbahasa Inggris, mereka berpakaian dan berperilaku sama, bermain sama, bahkan berpikiran sama dalam masalah bisnis. Karena sekolah managemannya hampir semua sama.

Kedua, faculty club culture, saya kira istilahnya berasal dari Amerika karena faculty itu artinya staff pengajar. Jadi yang diacu di sini istilahnya adalah kaum intelegensia. Ini tidak mengacu pada intelegensia saja tapi juga mengacu pada jaringan-jaringan yang dibentuk oleh intelegensia termasuk juga jaringan NGO internasional. Sebagaimana kita tahu, dari NGO internasional itu juga banyak sekali orang-orang yang mendapatkan pendidikan di universitas bahkan memperoleh gelar tertinggi dari universitas. Mereka ini membentuk sebuah kebudayaan sendiri dan rupanya juga mau mengacu pada bahwa mereka berbahasa Inggris, memakai kode etik yang kurang lebih sama, mereka juga memakai jargon-jargon yang sama, dan seterusnya.

Ketiga, popular culture. Istilah popular culture mungkin sudah kita sudah mengetahu, yang mengacu pada perilaku yang sekarang sedang diminati oleh orang biasa atau rakyat jelata. Misalnya hampir semua masyarakat itu suka dengan McDonald, Pizza Hut, coca-cola, Jeans itu sudah masuk dalam popular culture. Dan, ini saya kira tidak terlalu sulit.

Keempat, social movement. Menurut saya ini menarik sekali bahwa social movement dimasukkan dalam kerangka glonalisasi. Saya kira ini mengacu pada semua orang yang bergerak dan para aktivis pada tingkat global yang mengadakan gerakan-gerakan global dengan memakai fasilitas-fasilitas global seperti telpon, internet, dan lain sebagainya. Di sini Peter L. Berger memakai contoh yang sangat menarik yaitu gerakan penginjil Protestan, terutama yang versi Pante Costa. Menurut dia, gerakan itu begerak dengan sangat cepat sekali, menyebar ke mana-mana dan telah merubah sikap kerja, mendidik anak, perilaku seks, dan masalah sikap ekonomi.

Peter L. Berger melihat bahwa gerak ini bukan melulu satu arah. Dia menyebut proses localization, kata ini kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi tidak pas karena menjadi lokalisasi. Misalnya, McDonalds di Amerika itu dirancang sebagai restoran cepat saji. Tapi kalau sudah di luar Amerika malah menjadi tempat nongkrong berlama-lama tidak cepat makan kemudian pergi. Kemudian dia juga mencoba untuk menawarkan istilah lain yaitu hybridization, percampuran antara yang global dan yang lokal.

Kembali ^

FORUM DISKUSI