
Moderator: Hamid Basya'ib
Assalamu'alaikum dan Selamat malam! Selamat panjang umur, terutama buat Ulil
Abshar-Abdalla. Seperti disebutkan Nong Darol Mahmada tadi, ini untuk kali pertamanya
Ulil merayakan ulang tahun seumur hidupnya. Jadi, sudah 37 kali terlewati sia-sia tanpa perayaan, dan dia tidak sudi untuk yang ke-38 pun berlalu begitu saja.
Nah, berhubung Ulil adalah orang yang banyak sekali berpikir tentang Tuhan, maka ulang tahunnya pun diisi dengan semacam obrolan tentang Tuhan. Karena ada kejadian dahsyat sekali di Aceh, maka tema diskusi kita kali ini kira-kira tentang “Tuhan Pasca-Tsunami" sebuah tema yang saya kira seksi. Kalau kita ngomong soal Tuhan pasca-tsunami, Tuhan ini atau Tuhan itu, tentu yang kita maksud adalah persepsi manusia tentang Tuhan, bukan Tuhan It's self. Kita tidak mungkin berbicara soal Tuhan It’s self, karena kita tidak ada yang tahu hakikat-Nya. Atau kita juga tidak bisa bicara tentang Tuhan Her self, bukan Him selfsupaya Bu Musda Mulia senang (karena sensitifitas gender yagn terkandung dalam kalimat tersebut, Red). Makanya, buku Karen Armstrong yang berjudul History of God itu, tentu saja bukan sejarah Tuhan dalam artian Tuhan itu sendiri, tetapi bicara soal evolusi pemikiran manusia tentang Tuhan. Nah, semangat diskusi ini sama dengan itu kira-kira. Kalau kita bilang Tuhan pasca-tsunami, maksudnya kira-kira begitu. Jadi tidak ada pretensi untuk merasa paling tahu atau lebih tahu tentang apa dan bagaimanakah Tuhan itu sebetulnya. Ceramah-ceramah para khatib dalam shalat Jum'at kemarin juga banyak yang bernada begitu. Saya punya banyak "intel" yang selalu melaporkan tentang "gerak-gerik Tuhan"
kepada saya di dalam pelbagai masjid di Jakarta. Jadi, nada blaming the victims ini sangat berani. Di beberapa stasiun televisi, para penceramah juga punya kecenderungan begitu. Bahkan, penceramah besar seperti Quraish Shihab sekalipun, masih bernada begitu sekalipun mempu memberi penjelasan dan justifikasi macam-macam
soal bencana ini. Di media-media massa, beberapa tulisan yang muncul juga mengarah ke situ (blaming the victims atau blaming God, Red), kecuali tulisan Syu'bah Asa di majalah Tempo kemarin. Tapi selain itu, seperti tulisan Komaruddin Hidayat dan macam-macam tulisan lain, termasuk dari kalangan Kristen juga punya kecenderungan begitu. Beberapa hari yang lalu, ada artikel yang cukup bagus di The Age Australia.
Isinya kira-kira mempertanyakan: apakah Tuhan yang harus disalahkan? Dua hari yang lalu, kolumnis raksasa Amerika bernama William Safire juga menulis sebuah artikel di New York Times dengan judul "Where was God?" Jadi, orang sekarang mulai bertanya soal di mana Tuhan? Kalau kiamatnya sebesar ini, berarti Tuhannya tidak ada, dong! Kira-kira begitu logikanya.
Download Artikel
Kembali ^