Pelatihan Wartawan ke-10 - Sesi IV: Parpol Dan Konsolidasi Demokrasi
Apr 08

Pelatihan Wartawan ke-10 - Sesi IV: Parpol Dan Konsolidasi Demokrasi

 

SESI IV:
PARPOL DAN KONSOLIDASI DEMOKRASI: PERAN GAGASAN
Narasumber: Rizal Mallarangeng

Uraian:

Sesi ini dimulai dengan uraian Rizal Mallarangeng yang menerangkan perkembangan politik Indonesia mutakhir. Uraian terutama ditekankan pada aspek gagasan dan ideologi yang diusung oleh partai-partai politik di Indonesia.

Data terbaru yang diperoleh LSI menunjukkan bahwa Partai Demokrat sekarang memiliki potensi terkuat untuk menjadi partai nomer satu. PDIP masih stagnan, berada di posisi kedua. Dan di urutan ketiga Golkar. Semua partai besar ini adalah partai-partai yang sekular.

Apa maknanya ini? Apakah ini hanya menggambarkan realitas atau justru menggambarkan fondasi sistem kepartaian Indonesia selama ini? Kita tahu, partai adalah cerminan masyarakat.

Jika dibandingkan dengan fenomena pemilu pertama, kenyataan ini memunculkan banyak poin yang menarik.

Pemilu 55 merupakan test case bagaimana politik Indonesia berjalan. Dalam pemilu ini partai nomer satu adalah PNI; kemudian disusul partai Masyumi di urutan kedua; dan di urutan ketiga PKI; lalu di posisi keempat adalah Partai NU; dan urutan kelima adalah PSII.

Kita melihat bahwa sejak pemilu awal itu, tidak pernah ada partai yang menjadi mayoritas mutlak. Hal ini mencerminkan bahwa masyarakat Indonesia adalah sebuah masyarakat yang terfragmentasi. Tidak ada kekuatan tunggal. Hanya zaman Suharto ada mayoritas tunggal yang begitu besar. Tapi zaman Suharto pemilunya kan tidak bebas.

Dari pemilu pertama tersebut kita melihat bahwa PNI dan PKI adalah partai sekular. NU, Masyumi, dan PSII adalah partai Islam. Dengan demikian, kita melihat bahwa dasar pemilahan ideologi (gagasan) yang menjadi fondasi politik kepartaian adalah politik aliran.

Kita tahu bahwa Geertz sudah pernah menjelaskan bahwa politik aliran menyajikan pertentangan antara dua kubu yang khas: kalangan keagamaan (santri) dan kalangan sekular/nasionalis (abangan).

Aspirasi utama kalangan Islam waktu itu adalah berdirinya negara Islam. Dan ini juga dibawa menjadi isu utama konstituante yang kemudian terbentuk. Kalangan nasionalis (terutama PNI dengan Sukarnonya) menganggap bahwa ide negara Islam itu hanya akan memecah-belah Indonesia. Dan karena itu dia menawarkan Pancasila.

Dari sisi pandangan ekonomi, mayoritas partai pada pemilu 1955 adalah partai-partai kiri, baik kiri ekstrem seperti PKI, maupun kiri moderat seperti PNI dan PSI. Tidak ada partai yang kanan, mendukung liberalisasi, pro-pasar.

Dalam politik Indonesia sekarang, pandangan ekonomi partai tidak begitu berubah, hanya saja yang sudah ditinggalkan adalah posisi kiri-ekstrem. Partai-partai politik sekarang mayoritas adalah kiri-tengah. Melihat fenomena ini kita bisa berkata bahwa meskipun dari sisi ideologi keagamaan politik sekarang sudah banyak berubah (partai-partai menjadi lebih sekular), dari sisi ideologi ekonomi perpolitikan sekarang tidak banyak berubah dibanding 50 tahun yang lalu (mayoritas partai tidak ada yang terang-terangan mengaku diri liberal). Mungkin kita perlu menunggu 10-15 tahun lagi untuk melihat terjadinya perubahan ideologi ekonomi dalam politik kepartaian di Indoensia.

Kembali ke data LSI, apakah politik aliran itu masih berlangsung sekarang ini? Setelah Orba Runtuh, apakah politik aliran kembali mengemuka? Namun dari data LSI, dan dari kenyataan pemilu 1999 dan 2004, kita politik aliran tersebut going down. Turunnya politik aliran ini bisa jadi menunjukkan adanya sekularisasi politik, atau mungkin modernisasi politik di Indonesia.

Pertanyaannya kemudian: apakah ini lebih baik? Apakah politik yang mencair lebih bagus ketimbang perpolitikan Indonesia sebelumnya? Apa kekuatan dan kelemahannya bagi Indonesia?

Di negara-negara lain, baik di Eropa maupun Amerika, proses yang serupa juga terjadi: sekularisasi politik, modernisasi politik. Identitas atau ideologi keagamaan tidak lagi menjadi dasar yang paling utama.

Pencairan ini, sekularisasi atau modernisasi ini, tentunya lebih banyak sisi menguntungkannya. Mengapa? Karena politik tidak lagi dikaitkan dengan keilahiahan. Politik adalah fenomena duniawi, bagaimana menjadikan dunia ini menjadi lebih baik.

Pertanyaan dan Tanggapan:

1. Bagaimana melihat fenomena munculnya banyak perda Islam belakangan ini?

Jawaban:
- Memang pada awalnya ini mengkhawatirkan, namun 2-3 tahun kemudian, ini tidak terlalu berbahaya. Ini hanya bagian dari dinamika politik lokal, bagian dari euforia setelah dibukanya gerbang demokratisasi yang bebas di Indonesia. Jadi di tingkat nasional, politik pada dasarnya masih sekular.

2. Bagaimana menjelaskan bahwa Sri Mulyani, jika kita melihat kebijakan-kebijakannya, lebih cenderung ke kanan, mendukung liberalisasi?

Jawaban:
- Kiri sekarang kan berbeda dengan kiri di masa lalu. Kiri sekarang lebih akomodatif terhadap pasar, dan ini bisa dikatakan sebagai kiri-tengah. Namun jika melihat kebijakan ekonomi secara lebih umum, liberalisasi masih kurang dilakukan.

3. Rata-rata partai yang berbau agama menentang kapitalisme. Bagaimana melihat ini?

Jawaban:
- Jika melihat pada Islam, ini sebenarnya bertentangan dengan sejarah Islam. Nabi Muhammad sendiri adalah seorang pedagang. Istrinya juga pedagang. Jadi, jika melihat fenomena ini, seharusnya partai-partai Islam itu mendukung kapitalisme dan liberalisasi.

4. Prospek partai liberal di Indonesia menurut anda bagaimana? Pergerakan ke kiri tengah sekarang ini kan tidak sepenuhnya menerima liberalisasi?

Jawaban:
- Masyarakat sekarang ini dari sisi keagaman lebih banyak yang di tengah, moderat. Fenomena ini juga terjadi di wilayah ekonomi. Gejala global juga memperluhatkan hal yang sama: keengganan pada ektremisme, baik di titik keagamaan maupun ekonomi. Jadi ini bukan hanya fenomena Indonesia.
- Prospek liberalisasi di Indonesia memang masih panjang. Sekarang ini ytang penting secara umum ekonomi Indonesia lebih berkembang, lebih terbuka.

5. Tadi dibilang bahwa partai sekarang menjadi lebih “abu-abu”, tidak ada identitas ekstrem yang diusung. Hampir semua partai bergerak ke tengah. Apakah ini berarti bahwa kita sudah tercerabut dari akar? Apakah ini cermin dari kemenangan sekularisasi Barat?

Jawaban:
- Ini pertanyaan bagus. Tapi ini pandangan yang agak pesimistik terhadap perubahan. Akar tradisi itu bukan sesuatu yang stagnan. Ia terus berkembang menurut perkembangan zaman. Apa sebenarnya akar kita? Ini kan tidak selalu pasti. Suatu konteks sejarah tertentu, di tempat tertentu, mungkin memunculkan akar identitas tertentu. Di konteks sejarah yang lain, di tempat yang lain, akar identitas ini juga akan lain. Jadi kita jangan pernah terjebak dalam esensialisme dalam melihat akar kita. Akar kita selalu berubah, sesuai dengan perubahan diri kita.

(Zaim Rofiqi)

 

Print PDF

Dengarkan

Freedom Audio

Kumpulan rekaman
audio dan diskusi Freedom Institute

BUKA PODCAST FREEDOM >>

Freedom Institute

Surat Berkala

Terima undangan dan berita terbaru Freedom Institute  

DAFTAR SURAT BERKALA >>

Baca

Buku Freedom

Temukan koleksi buku terbaru perpustakaan Freedom Institute

Cari disini >>

©2012 FREEDOM INSTITUTE. All rights reserved.

Google+