Menyemai Gagasan di Sumatera: Laporan Akademi Merdeka Padang
Sep 13

Menyemai Gagasan di Sumatera: Laporan Akademi Merdeka Padang


imageKalau saja gagasan ibarat tumbuhan, maka tugas para intelektual adalah menyemainya. Menaburkan benih-benih gagasan alternatif yang nanti akan siap, bila tiba waktunya. Seorang intelektual tak akan berhenti, menunggu, dan memetik hasilnya demi kepentingan masa sekarang. Kaum intelektual terus mempersiapkan generasi-generasi yang nantinya akan membawa gagasan itu di pundak mereka, demi memperbaiki nasib negeri.

Itulah yang dilakukan oleh Freedom Institute dan Friedrich Naumann Foundation for Freedom (FNF) di bumi Sumatera, September 2013 yang lalu. Berlokasi di pusat Kota Padang, berkumpul lah 24 putra-putri Minang, berdiskusi dan berdebat mengenai tema yang saat itu diambil “Kebebasan dan Politik Perubahan Iklim”.

Apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan bumi kita? Para peserta, yang masih dibawa ke dalam perdebatan arus utama, masih memilih untuk menghentikan aktifitas manusia demi bumi yang diramalkan pengamat arus utama sedang “sakit tua” akibat eksploitasi tanpa henti. Manusia sebagai aktor utama dibalik eksploitasi tersebut harus menanggung penuh semua penyakit yang diderita oleh bumi. Hutan harus dijaga, hentikan semua aktifitas yang menggunakan energi fosil, dan perbanyak kegiatan semacam “earth hour” yang dinilai sebagai usaha menyelamatkan lingkungan. Hampir semua sepakat.

Lalu dimana posisi umat manusia? Dimana kebebasan yang menjadi hak dasar bagi kebahagian manusia?

Vaclac Klaus, seorang liberal yang banyak berbicara mengenai isu lingkungan dan perubahan iklim mengkritik kecenderungan aktivis lingkungan yang seringkali berlebihan dan menakut-nakuti bahaya perubahan iklim. Mereka seringkali melewati batas dalam membawa isu yang sebenarnya masih sebuah perdebatan di kalangan saintis. Perubahan iklim masih sangat diragukan keakuratannya. Kalaupun benar, perubahan iklim dianggap sangatlah wajar terjadi di bumi. Sejak ratusan ribu tahun yang lalu bumi sudah mengalami perubahan iklim, tidak hanya pemanasan global (global warming), tapi juga pendinginan global (global cooling). Tidak hanya itu, solusi untuk mencegah perubahan iklim cenderung anti-manusia dikecam keras oleh Klaus. Menghentikan sama sekali aktivitas manusia sangatlah tidak bijak, mengingat manusia pun makhluk yang mempunyai hak untuk hidup.

Peserta juga mendiskusikan tentang liberalisme dan batas-batas kebebasannya. Filsuf liberal klasik, John Stuart Mill menjelaskan prinsip kebebasan yang sangat sederhana, “kebebasan kita dibatasi oleh kebebasan orang lain” yang disebut sebagai Harm Principle.

Ulil Abshar Abdalla, intelektual liberal Indonesia yang juga mengisi workshop Akademi Merdeka ini menilai mahasiswa Padang termasuk mahasiswa yang “suka bicara” (talkative). Dari begitu intens-nya debat dan diskusi antar peserta akan menghasilkan gagasan alternatif untuk masyarakat. Mahasiswa di Padang diharapkan terus bergerak dalam kemajuan, meninggalkan konservatisme yang telah usang. Mengutip Fachry Ali, bahwa adat minangkabau sangat mendorong terciptanya elemen-elemen baru yang bergerak ke depan. Adat minangkabau tidak “mengharamkan” munculnya munculnya gagasan baru yang pro-perubahan. Gagasan baru yang datang, bila cocok dan baik untuk masyarakat akan diambil.

Progresivitas inilah yang kemudian melahirkan tokoh-tokoh sekelas Muhammad Hatta dan Syahrir. Tokoh progresif, pembawa obor gagasan yang dituai oleh generasi kemerdekaan.

Laporan ditulis oleh Rofi Uddarojat, aktivis Youth Freedom Network (YFN)

Foto Dokumentasi Kegiatan
Author: Wahyu
Print PDF

Dengarkan

Freedom Audio

Kumpulan rekaman
audio dan diskusi Freedom Institute

BUKA PODCAST FREEDOM >>

Freedom Institute

Surat Berkala

Terima undangan dan berita terbaru Freedom Institute  

DAFTAR SURAT BERKALA >>

Baca

Buku Freedom

Temukan koleksi buku terbaru perpustakaan Freedom Institute

Cari disini >>

©2012 FREEDOM INSTITUTE. All rights reserved.

Google+