Laporan Diskusi: Dari Diskusi Kota dan Lingkungan
Nov 19

Laporan Diskusi: Dari Diskusi Kota dan Lingkungan

DB131010-02b_zpsba22320d

Diskusi “Kota dan Lingkungan” berlangsung hari Kamis, 10 Oktober, dengan pembicara Marco Kusumawijaya (urbanis) dan Ari A. Perdana (ekonom) hendak mempersoalkan sejumlah soal sebagai berikut. Dapatkah kota-kota besar kita menjadi kota-kota yang lestari, yang tidak menghabiskan sumberdaya alam namun justru menjadi pelopor bagi kelestarian lingkungan di tingkat daerah, global maupun nasional? Apakah pertumbuhan ekonomi yang berpusat di kota-kota besar dunia itu justru bertentangan dengan kelesatarian lingkungan atau bersesuaian dengannya? Dan apakah kota-kota besar kita bisa menjadi kota-kota hijau, jika selama ini kita abai pada perecencanaan-perkotaan?

 

Seturut uraian Ari A. Perdana, kurang-lebih 51 persen penduduk dunia—juga Indonesia—hidup di wilayah kota, meskipun wilayah perkotaan hanya mencakup 2 persen permukaan bumi. Fakta ini menunjukkan bahwa urbanisasi tak pernah berhenti. Ekspansi modal alias pertumbuhan pada dasarnya memerlukan konsentrasi pengelolaan alat-alat produksi dan tenaga kerja. Sementara itu diferensiasi kerja bisa tumbuh hanya jika banyak tenaga kerja yang berhimpun-berinteraksi. Lalu, dengan adanya penumpukan penduduk di wilayah perkotaan, tumbuh pula “sofistikasi selera dan gaya”, dan dengan begitu tumbuhlah kebudayaan.

 

Marco Kusumawijaya menyebut kota-kota besar kita sebagai kota-kota yang tidak lestari, yaitu yang menghancurkan ekosistem secara pelan-pelan karena kerakusannya, konsumerisme yang membabibuta. Dengan kata lain, sebenarnya kota-kota yang tidak lestari adalah kota-kota yang membunuh diri sendiri. Ia menyarankan lima langkah menuju kota lestari, yang menyangkut pembenahan mendasar di lima ranah, yaitu transportasi, tata guna air, penggunaan energi dan materi, pengelolaan sampah, dan perubahan perilaku. Marco mengingatkan, bahwa aspek positif dari pertumbuhan kota adalah bahwa kota berpotensi menjadi lebih efisien, yang dalam arti tertentu adalah lebih ekologis. Ia mencontohkan bahwa “tapak ekologis” Tokyo, misalnya, lebih kecil daripada daerah-daerah lain di Jepang. Ini bisa jadi contoh bagi metropol-metropol lain di dunia.

 

Dalam pada itu, kebijakan di bidang transportasi mestinya diarahkan kepada “melawan mobil dan sepeda motor pribadi.” Yang keliru dari situasi kita selama ini adalah anggapan bahwa jalan-jalan tol dan flyovers dalam kota dibangun untuk mengatasi kemacetan, padahal dengan itu “lapar akan mobil pribadi” justru bertambah besar. Pembangunan transportasi umum secara besar-besaran pada dasarnya adalah sebuah strategi menekan emisi karbon. Masalahnya menjadi tidak sederhana jika menyangkut Jakarta, misalnya. Pemerintah Daerah DKI Jakarta pasti tidak bisa bekerja sendiri dalam membereskan kemacetan lalulintas, tapi harus bekerja sama dengan Pemerintah Pusat dan Pemda-Pemda lain di sekitarnya.

 

Pada dasarnya Marco mengingatkan “pengetahuan umum” yang sudah dilupakan.  Misalnya saja bahwa banjir di kota-kota besar kita terjadi karena kita tak mengkonservasi air. Semestinya dari seluruh curahan dan limpahan air, 75-95 persen dimasukkan lagi ke dalam tanah, dan 5-25 persen “boleh” terbuang; yang terjadi, adalah sebaliknya, maka jadilah banjir. Ini berlangsung di Jakarta dan metropol besar seperti Los Angeles. Sementara itu, sungai-sungai di kota juga hanya sarana untuk membuang air, bukan memanfaatkannya; kita justru membangun kanal-kanal baru untuk mendatangkan air.

 

Ada juga kesalahan mendasar lain, misalnya dalam hal pengelolaan sampah. Sebagian besar kita sudah tergantung kepada tempat pembuangan sampah terpusat. Sesungguhnya, sampah harus ditangani pada sumbernya, yaitu pada rumah tangga. Dengan kata lain, setiap keluarga harus menjadi pengolah sampah sendiri yang mandiri. Sementara itu, warga terlebih dulu harus mengurangi apa-apa yang dipakai, jauh sebelum menggunakan-ulang bahan bekas dan melaksanakan daur-ulang. Gampangnya, kota-kota kita akan jadi lebih lestari jika hulu-hulu pembuangan sampah (kita kenal dengan istilah TPA) berkurang jumlahnya.

 

Langkah-langkah yang dianjurkan Marco Kusumawijaya pada dasarnya adalah “perubahan paradigma” perilaku kita. Kita, misalnya, “lebih banyak tahu tentang apa harus tidak kita lakukan, ketimbang tentang apa yang harus kita lakukan.” Sedangkan perubahan perilaku itu sendiri bersangkut-paut dengan budaya politik, penegakan hukum dan—dalam kasus DKI Jakarta sekarang—perubahan budaya kepemimpinan. Salah satu soal tentang kenapa orang masih juga terus membeli kendaraan pribadi adalah bahwa harga bahan bakar sangat murah—bahan bakar bersubsidi. Ini membuat ongkos menggunakan kendaraan pribadi jauh lebih murah ketimbang ongkos menggunakan transportasi umum. Jelas, mengubah harga BBM adalah wewenang Pemerintah Pusat. Masih banyak masalah lain yang sesungguhnya “mengharuskan” sebuah Pemerintah Daerah bekerja sama dengan sejumlah Pemda lain di sekitarnya dan Pemerintah Pusat.

 

Tapi bukannya tidak ada optimisme. Marco Kusumawijaya telah mengatakan bahwa kota besar, karena efisiensinya, berpotensi menjadi lebih ekologis ketimbang daerah-daerah, yang menjadi sasaran eksploitasi langsung. Sementara itu pula, dari paparan Ari A. Perdana kita tahu bahwa perkembangan teknologi membuat orang tidak lagi berminat kepada kerapatan dan kedekatan. Dengan begitu, mungkin kota-kota besar akan mengalami semacam “deurbanisasi” sejalan dengan hidupnya kegiatan ekonomi dan teknologi di daerah-daerah. Mungkin dengan prinsip begini, kita pelan-pelan bisa percaya kepada diktum bahwa kemajuan-dan-pertumbuhan sejalan dengan kelestarian lingkungan. Kota besar bisa menjadi pelopor untuk itu.

 

Bahan Diskusi: 
EC and the City - Ari A. Perdana - pdf - 444 MB
5 Program Transisi Menuju Kota Lestari - Marco Kusumawijaya - pdf - 8,43 MB

Dokumentasi:

Audio

Foto

Video

Author: Wahyu
Print PDF

Dengarkan

Freedom Audio

Kumpulan rekaman
audio dan diskusi Freedom Institute

BUKA PODCAST FREEDOM >>

Freedom Institute

Surat Berkala

Terima undangan dan berita terbaru Freedom Institute  

DAFTAR SURAT BERKALA >>

Baca

Buku Freedom

Temukan koleksi buku terbaru perpustakaan Freedom Institute

Cari disini >>

©2012 FREEDOM INSTITUTE. All rights reserved.

Google+