Debat Visi-Misi Capres 2014: Masa Depan Kebebasan Beragama di Indonesia dan Perlindungan Kalangan Minoritas
Jul 16

Debat Visi-Misi Capres 2014: Masa Depan Kebebasan Beragama di Indonesia dan Perlindungan Kalangan Minoritas

DB140618-04d zpsd88c3715

Adalah biasa bahwa di dalam perhelatan pilpres isu politik dan agama menjadi isu paling seksi bahkan menjadi sorotan paling tajam di media massa, demikian dikatakan Kastorius Sinaga dalam Debat Visi Misi Capres 2014 “Masa Depan Kebebasan Beragama dan Hak Minoritas” yang dikerjasamakan Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK), Freedom Institute dan Freiderich Naumann Stiftung, Rabu (18/06). Diskusi yang digelar di Gado-Gado Boplo, Menteng-Jakarta tersebut menghadirkan Kastorius Sinaga sebagai perwakilan dari tim Prabowo-Hatta dan Musdah Mulia dari tim Jokowi-JK, serta dipandu oleh Fessy Alwi sebagai Moderator. Lebih dari seratus lima puluh peserta yang hadir dalam kesempatan itu, mereka adalah para jurnalis dari berbagai media mainstream dan juga para aktivis NGO serta mahasiswa dari berbagai universitas di Jakarta. Ia melanjutkan bahwa persinggungan antara politik dengan agama dalam perhelatan pemilu bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di banyak negara dunia. Paling tidak ada tiga hal yang selalu menjadi sorotan, pertama, afiliasi agama dari kandidat yang menjadi peserta pemilu. Menurut Kastorius, agama seorang capres menjadi penting karena agama merupakan identitas paling mendasar, dan karenanya prefensi pemilih selalu dihubungkan kepada prefensi agama. Aspek kedua yang paling sering ditemukan dalam pemberitaan media adalah hubungan sang kandidat dengan tokoh-tokoh agama dan ormas-ormas agama berpengaruh. Yang ketiga adalah juga hubungan kandidat dengan tokoh-tokoh agama yang kontroversial.

Kastorius melanjutkan bahwa pada umumnya persoalan persinggungan agama dengan politik di dalam kontestasi capres pasti akan dibawa kepada hal yang lebih besar. Jika di Amerika persoalan tersebut dibawa kepada national security, mungkin kalau di Indonesia lebih kepada prospek demokratisasi. Kastorius percaya bahwa hakiki demokrasi adalah memberi perlindungan kepada kaum minoritas dan juga apa yang disebut sebagai jaminan terhadap kebebasan beragama. Kastorius menekankan bahwa forum-forum diskusi seperti yang dilakukan kali itu sangat membantu untuk membedah dan juga mengukur visi-misi masing-masing capres terkait kebebasan beragama dan juga di bidang perlindungan terhadap kalangan minoritas.

Pada kesempatan tersebut Kastorius menyatakan bahwa visi-misi Prabowo-Hatta di bidang kebebasan beragama dan jaminan hak minoritas bisa diihat dengan jelas melalui manifesto politik partai Gerindra. Meski ada keriuhan soal pemurnian agama, Katorius menjelaskan bahwa sebagaimana telah diklarifikasi sebelumnya oleh para petinggi Gerindra, ia kembali menyatakan bahwa itu terjadi karena manifesto dibuat secara tergesa-gesa tanpa mempertimbangkan kalimat demi kalimat secara teliti. Meski demikian, menurutnya pengakuannya, kata-kata pemurnian agama telah dihapuskan dari manifesto tersebut. Selanjutnya Kastoris menekankan bahwa manifesto politik yang dilakukan kubu Prabowo-Hatta memberi jaminan terhadap setiap orang atas hak kebebasan beragama dan menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaannya. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama dan kepercayaannya. Selain itu, pemerintah wajib mengatur kebebasan di dalam menjalankan agama dan kepercayaannya demi kerukunan antar-umat beragama. Dari manifesto tersebut lantas diterjemahkan kedalam tiga visi-misi Prabowo-Hatta, yakni: 1. Menjaga negara kesatuan RI berdasarkan UUD ’45 dan Pancasila, 2. Membangun karakter pribadi orang Indonesia agar mempunyai akhlak yang sesuai dengan nila-nilai pancasila, 3. Membangun ekonomi kerakyatan demi kemakmuran seluruh masyarakat Indonesia dengan cara menjaga agar kekayaan Indonesia tidak bocor, tidak dikorupsi dan tidak diambil dan dirampas oleh pihak asing, demi kemakmuran rakyat. Sementara program yang lebih terkait dengan kebebasan beragama ada dalam program yang disebut sebagai 100 Program Aksi. Kastorius menyebutkan bahwa khusus terkait kebebasan beragama dan perlindungan minoritas, dalam ayat 5 tertulis: Melindungi rakyat dari berbagai bentuk diskriminasi serta gangguan dan ancaman serta menjunjung tinggi hak azasi sesuai dengan pancasila dan UUD ’45. Ia menegaskan bahwa dari program tersebut bisa dilihat semangat Prabowo-Hatta yang tidak menoleransi tindakan-tindakan intoleran terhadap apa yang disebut sebagai kebhinekaan.

Sementara itu, Musdah Mulia yang mewakili tim pemenangan Jokowi-JK menegaskan bahwa visi misi Jokowi-JK terkait pembangunan dalam bidang agama berdasarkan pada pemikiran yang matang, tidak tergesa-gesa dan dibuat berdasarkan fakta-fakta yang selama ini terjadi di Indoenesa. Musdah menyinggung realitas sosial yang memprihatinkan yang terjadi di sekitar kita, di antaranya soal merebaknya berbagai koflik di Indonesia. Ia menyebutkan bahwa konflik-konflik tersebut terus berkembang karena banyak faktor, di antaranya merupakan akibat dari kegagalan pemerintah membangun kesejahteraan dan keaadilan sosial bagi selurh rakyat Indonesia. Selain itu, juga fakta bahwa semakin menguatnya doktrin keagamaan yang bersifat otoritarian. Fenomena penyebaran konservatisme tersebut semakin menguat dan dibiarkan berlarut-larut, tanpa tindak-lanjut yang tgegas dari pemerintah. Konflik-konflik terus terjadi juga merupakan akibat dari pembiaran pemerintah terhadap para pelaku kekerasan, bahkan ada kecenderungan menyalahkan korban.

Menurut Musdah, gejala lain yang juga cukup berbahaya adalah meningkatnya keberpihakan aparat terhadap pandangan mayoritas, meskipun pandangannya tersebut keliru, bahkan inkonstitusional. Bahkan juga dalam laporan Wahid Institut dan banyak lembaga lainnya disebutkan bahwa aparat kepolisian, pejabat pemerintahan dari mulai Bupati hingga Camat, merupakan pelaku kekerasan itu sendiri. Selain itu, fakta bahwa oramas keagamaan menjadi pelaku kekerasan terbanyak dalam tindakan intoleransi menjadi persoalan yang tak kalah pelik. Padahal, tegas Musdah, seharusnya orang beragama percaya bahwa agama dan kepercayaan apapun itu mengajarkan toleransi.

Persoalan lain yang disinggung Musdah dalam diskusi tersebut adalah merebaknya pandangan yang intoleran di masyarakat terhadap pembangunan rumah ibadah agama lain. Selain itu otoritas yang diberikan kepada pemuka agama terkait kebijakan pembangunan rumah ibadah juga bermasalah. Karena yang semestinya memegang otoritas tersebut adalah pemerintah, dengan menyerahkannya kepada para ahli, dalam hal ini ahli tata kota. Dari sini kita bisa melihat bahwa tren intoleransi semakin meningkat, masyarakat menunjukkan gejala merasa tidak nyaman terhadap perbedaan, baik itu perbedaan agama maupun status sosial.

Musdah menegaskan bahwa visi misi Jokowi-JK dalam kebebasan beragama diambil berdasarkan pengamatan atas berbagai kondisi memprihatikan sebagaimana ia singgung di atas. Visi misi Jokowi-JK bisa menjadi jawaban atas berbagai kekhawatiran masyarakat tentang perjuangan seperti apa yang bisa dilakukan untuk mengubah kondisi kebebasan beragama yang kian parah ini. Musdah menekankan bahwa untuk mengubah keadaan tersebut memerlukan keberanian dan orang yang tepat untuk mengubahnya.

Pada kesempatan tersebut juga Musdah menyerukan untuk melawan gejala-gejala fundamentalisme yang kian menguat. Menurutnya, fundamentalisme ada pada semua agama dan bangsa, karena itu kita harus mewaspadainya. Karena, menurut Musdah, selain fundamentalisme selalu menyiratkan syiar kebencian pada sesama,faham ini juga mengekalkan sikap yang memandang kebenaran hanya milik diri sendiri, memandang hina yang lain, sehingga akibatnya penuh prejudice terhadap orang lain. Mudha menekankan bahwa penanganan fundamentalisme ini harus dimulai dari lingkungan keluarga, bagaimana kita mengajak orang-orang terdekat untuk senantiasa bersikap menghargai perbedaan. Terakhir Musdah menekankan bahwa visi-misi Jokowi-JK yang diambil dari realitas sosial dewasa ini adalah membangun kehidupan beragama berdasarkan nila-nilai pancasila, mengikis semua bentuk intoleransi, dan menegakkan konstitusi. Visi misi tersebut nantinya akan diturunkan ke dalam berbagai tindakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan sebagaiamana ia singgung di atas.

 

Dokumentasi Diskusi:

Audio (dropbox) 1:43:51

Foto (photobucket)

Video (youtube)

Author: Wahyu
Print PDF

Dengarkan

Freedom Audio

Kumpulan rekaman
audio dan diskusi Freedom Institute

BUKA PODCAST FREEDOM >>

Freedom Institute

Surat Berkala

Terima undangan dan berita terbaru Freedom Institute  

DAFTAR SURAT BERKALA >>

Baca

Buku Freedom

Temukan koleksi buku terbaru perpustakaan Freedom Institute

Cari disini >>

©2012 FREEDOM INSTITUTE. All rights reserved.

Google+