Mendiskusikan Liberalisme, Menyemai Budaya Damai
Oct 14

Mendiskusikan Liberalisme, Menyemai Budaya Damai

LL140926-01a zps5f1044fe

Dalam sejarah peradaban manusia, segala penindasan dan penjajahan dalam berbagai bentuknya adalah awal dari sejarah panjang konflik dan peperangan. Perlawanan terhadap perampasan hak milik kekayaan pribadi dengan pajak yang mencekik atas nama kekuasaan, seringkali menjadi awal pemberontakan dan peperangan. Tidak hanya itu, kukungan atas kebebasan berpikir dari otoritas politik maupun agama memicu konflik sejarah yang lebih luas. Gagasan pencerahan Eropa berperan menghapus itu semua. Penghormatan terhadap hak hidup manusia, yang dalam turunannya melindungi hak milik pribadi dan kebebasan berpikir sehingga manusia bisa mencapai kebahagiaan sehingga masyarakat mencapai kemajuan secara umum.

Beberapa wilayah di Indonesia mengalami sejarah kelam dalam konflik kedaerahan karena isu-isu tertentu, yang bila ditarik lebih jauh akar utamanya adalah kesejahteraan ekonomi. Beberapa wilayah di luar Jawa tersebut yang pada masa pemerintahan orde baru “ditinggalkan”, dan tidak diprioritaskan dalam pembangunan ekonomi. Ditambah dengan eksploitasi sumber daya alam ekstraktif, yang hasilnya tidak digunakan untuk mensejahterakan masyarakat lokal namun dibawa untuk membangun daerah-daerah pusat. Hal ini menimbulkan ketidakpuasan ekonomi, yang kemudian mengarah kepada pelampiasan atas ketidakpuasan tersebut. Di sisi yang lain, terdapat transmigran dari Pulau Jawa yang pada saat itu mendominasi kekayaan ekonomi. Maka konflik terjadi, yang pada akhirnya hanya memperparah keadaan di wilayah tersebut dan tidak menyeleseikan masalah awal.

Tentu saja, apapun masalahnya tidak akan terseleseikan dengan konflik dan kekerasan. Namun hasrat masyarakat untuk berkonflik bisa dilacak dari beberapa karakter manusia itu sendiri, misalnya sulit menerima perbedaan, belum ada budaya untuk berdialog dan berdiskusi, serta kebebasan dan demokrasi yang belum terimplementasi secara benar di wilayah tersebut. Sehingga masalah yang terjadi tidak direspon secara benar, untuk benar-benar diseleseikan dan menyenangkan semua pihak.

Freedom Institute, Friedrich Naumann Foundation for Freedom (FNF Indonesia), dan Youth Freedom Network (YFN) hadir dalam misi menyemai budaya damai tersebut di Lampung. Sebagai salah satu provinsi di pulau Sumatera, Lampung mengalami beberapa konflik sosial yang dipicu dari beberapa faktor. Diantaranya adalah disparitas ekonomi, kecemburuan sosial, dan sentimen perbedaan etnisitas. Sehingga untuk menghentikan faktor-faktor tersebut, ketiga lembaga tersebut berusaha untuk memulai pendidikan politik dan kebebasan sedari diri pada generasi muda. Terdapat dua acara yang secara simultan kita adakan di Lampung, yaitu workshop tiga hari tentang dasar-dasar liberalisme dan seminar publik tentang lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

Dalam workshop, peserta datang dari berbagai latar belakang. Walaupun sebagian besar berasal dari Universitas Lampung, namun mereka dari jurusan maupun aktivitas organisasi yang berbeda-beda. Seperti pegiat diskusi, aktivis himpunan jurusan, aktivis organisasi ekstra kampus, dan lain-lain. Keberagaman tersebut yang kemudian membentuk suasana diskusi yang atraktif dan lebih cair. Karena satu sama lain belum mengenal sehingga timbul minat untuk berkenalan satu sama lain. Perekrutan peserta yang berada pada level aktivisme yang berbeda pula yang membuat forum semakin berjalan menarik, terutama pada pembahasan materi-materi yang sedikit kontroversial.

LL140926-04d zpse7f607ffSaya sebagai fasilitator forum pun sedikit terkejut ketika pada permainan empat sudut yang mengajukan pertanyaan pilihan pada isu-isu kontroversial, seperti nikah beda agama dan LGBT, sebagian besar para peserta memilih pada argumen-argumen yang terbuka. Ada memang beberapa yang tetap pada pilihan argumen konservatif, tapi sifatnya bukanlah mayoritas namun sebagai pandangan yang setara di dalam suatu forum. Saya kira mahasiswa di Lampung jauh dari wacana kebebasan dan kemajuan seperti ini. Sehingga pada awal perkenalan tersebut saya sudah dibuat kagum.

Forum kemudian berjalan secara linier, mengikuti alur perdebatan forum seperti biasa. Fasilitator mengajukan beberapa materi, yang berupada gagasan dan pemantik diskusi kemudian peserta membahasanya. Isu-isu ekonomi tidak diabaikan disini, karena walaupun isu tentang pembangunan ekonomi, kemiskinan, dan kesejahteraan hanya dipelajari oleh sebagian mahasiswa dari jurusan tertentu saja, namun semuanya mendengarkan dan merespon perdebatan dengan baik. Isu yang menjadi perdebatan salah satunya adalah, apakah Indonesia dengan menganut pasar bebas hanya menjadi pasar barang-barang luar negeri. Dalam perdebatan yang muncul, ternyata tidak. Indonesia, dengan mengambil contoh beberapa negara Asia yang bisa muncul menjadi negara pengekspor ke negara-negara maju bisa mendobrak “mitos” tersebut. Asalkan bisa membenahi beberapa sektor seperti inefisiensi dan korupsi. Kemudian peserta berdiskusi dengan Muhammad Husni Thamrin, Nirwan Ahmad Arsuka, dan Ikram Badila dalam beberapa isu spesifik.

Peserta workshop semakin menambah wacananya dalam diskusi publik yang digelar di kampus UNILA pada pagi harinya. Dr. Ayi Ahadiat sebagai dosen FISIP menerangkan tentang perkembangan baru pembangunan ekonomi yang tidak hanya menekankan pada pertumbuhan, namun juga pada keberlanjutan pembangunan yang ramah pada lingkungan. Nirwan Ahmad Arsuka menerangkan bahwa isu lingkungan kini jangan lagi dipisahkan dengan isu pembangunan, karena bagaimanapun pembangunan ekonomi berperan dalam menyejahterakan masyarakat. Diskusi publik ditutup dengan tanya-jawab dari peserta.

 

Menyemai DamaiLL140926-06f zpsd901d620

Di malam terakhir workshop dan seluruh kegiatan kami di Lampung, kami melakukan refleksi kebebasan dan mendiskusikannya dalam konteks Kemahasiswaan dan Lampung. Dalam pengantarnya, Ikram Badila sebagai dosen FISIP UNILA menyampaikan tentang keadaan Lampung yang rawan konflik akibat berbagai faktor. Selain itu, untuk ancaman kebebasan baik di dalam maupun di luar kampus, menurutnya tidak begitu ada. Buktinya di kampus UNILA secara aman pernah menyelenggarakan seminar LGBT tanpa adanya usaha penutupan dari kelompok lainnya. Tentang potensi kelompok intoleran di kampus, tentu saja ada. Walaupun begitu, berkat adanya upaya perlindungan dari dosen-dosen kampus, mahasiswa tidak dibiarkan melawan sendirian.

Di malam itu juga dibentuk koordinator yang akan mewadahi komunikasi antar peserta workshop setelah acara selesei. Hal ini untuk menjaga jaringan yang sudah terbentuk di Lampung agar tetap bisa saling berkomunikasi dan berinteraksi sebagai alumni workshop Freedom Institute dan FNF.

*Rofi Uddarojat, fasilitator Workshop Freedom Institute dan FNF Indonesia

Author: sapto
Print PDF

Dengarkan

Freedom Audio

Kumpulan rekaman
audio dan diskusi Freedom Institute

BUKA PODCAST FREEDOM >>

Freedom Institute

Surat Berkala

Terima undangan dan berita terbaru Freedom Institute  

DAFTAR SURAT BERKALA >>

Baca

Buku Freedom

Temukan koleksi buku terbaru perpustakaan Freedom Institute

Cari disini >>

©2012 FREEDOM INSTITUTE. All rights reserved.

Google+