Laporan Diskusi: Masa Depan Indeks Demokrasi Indonesia
Oct 29

Laporan Diskusi: Masa Depan Indeks Demokrasi Indonesia

Pasca dilantiknya presiden Jokowi, salah satu diskursus yang tak kalah menariknya adalah tentang prospek indeks demokrasi Indonesia. Mengingat Jokowi memiliki tantangan berat di tingkat parlemen guna melakukan implementasi kebijakannya, tentu tingginya tensi politik bisa saja berimbas kepada hal-hal lain seperti kekuatan civil society, kebebasan serta peluang investasi. Bahkan hal tersebut bisa saja berdampak pada bursa saham yang dibuktikan dengan menurunnya IHSG dan menurunnya rupiah terhadap dollar mencapai angka Rp 12.000,- pada kira-kira sebulan yang lalu.

Freedom Institute bekerjasama dengan Friedrich Naumann Stiftung fur die freiheit (FNF) Indonesia dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Politik UIN Jakarta menyelenggarakan ‘Public Lecture’ yang bertajuk “Masa Depan Indeks Demokrasi Indonesia” dengan menghadirkan narasumber diantaranya Burhanuddin Muhtadi, MA, MAPS (Dosen Ilmu Politik UIN Jakarta), Prof. Dr. Hamdi Muluk, M.Si (Guru Besar Psikologi Politik UI) dan Philips J. Vermonte (Peneliti Centre for Strategic and International Studies) pada hari Rabu, 22 Oktober 2014 yang bertempat di Aula lt 1 FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Pembicara pertama, Burhanuddin Muhtadi memaparkan tentang keberhasilan transisi demokrasi di Indonesia sejak 1998 yang tergolong baik apabila dibandingkan dengan negara-negara muslim lainnya yang selalu diiringi dengan rentetan pemberontakan pasca tumbangnya rezim totalitarianisme. Tak heran apabila Indonesia kerapkali di kategorikan sebagai negara percontohan demokrasi. Terlebih jumlah umat islam di Indonesia adalah yang terbesar namun penerimaan terhadap demokrasi juga tergolong baik. Kasus pemilu 2014 dikatakan sebagai keberhasilan pemilu yang patut di apresiasi, mengingat dalam pilpres hanya terdapat 2 calon, sehingga pada titik ekstrem terjadi perdebatan yang sangat serius di tataran grassroot, tak heran apabila saat kampanye pilpres Indonesia seolah terbagi menjadi 2 kubu sebagai akibat pembelahan antara dukungan Jokowi dan Prabowo, namun setelah KPU dan MK menetapkan Jokowi sebagai pemenang maka secara sadar masyarakat bisa kembali bersatu seperti saat-saat sebelum pemilu. Kedewasaan demokrasi di Indonesia ini patut di apresiasi.

Narasumber selanjutnya, Hamdi Muluk memaparkan tentang kecenderungan data indeks. Indeks demokrasi adalah salah satu alat ukur guna melihat bagaimana tingkat kebebasan demokrasi itu dilaksanakan dalam sebuah negara. Salah satu lembaga yang melakukan publikasi tentang Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) adalah Badan Pusat Statistik (BPS). Pada tahun 2013, BPS memaparkan Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) mencapai angka 63,68 dari skala 0-100. Mengalami kenaikan apabila dibandingkan dengan tahun 2012 yakni 62,63. Pada dasarnya IDI dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu Baik (indeks > 80), Sedang (indeks 60 - 80), dan Buruk (indeks < 60). Keberhasilan demokrasi Indonesia selain dipengaruhi oleh kedewasaan elit politik juga di pengaruhi oleh kekuatan civil society yang dengan intensif memberikan autokritik bagi setiap kebijakan yang dirasa tidak pro rakyat.

Philips Vermonte, sebagai narasumber ketiga memaparkan tentang realitas politik Indonesia yang kerapkali bersebrangan dengan idealisme politik yang ingin di bangun bagi setiap pemimpin, Jokowi misalnya yang memiliki niat untuk membangun kabinet yang ramping dan professional namun tersandera oleh keberadaan PDIP yang mau tak mau dirinya harus melakukan kompromi politik dengan membagi jatah menteri. Memang ini sebagai konsekuensi dari implementasi sistem presidensialisme-multipartai. Yang menurut banyak pihak terkesan tidak cocok. Tentang Indeks Demokrasi, Philips meyakini bahwa Indonesia masih dalam kategori baik dalam proses memperkuat tatanan demokrasi yang tentunya membutuhkan elemen civil society seperti NU dan Muhammadiyah yang merupakan kunci bagi keberhasilan demokrasi Indonesia.

Diskusi berlangsung menarik dan banyak menyita perhatian mahasiswa serta dosen. Tak heran banyak sekali audience yang menyesaki ruangan diskusi sehingga ada sebagian yang tak mendapat kursi dan dihujani banyak pertanyaan. Acara dihadiri pula oleh beberapa rekan-rekan pers dan wartawan. Diskusi diakhiri dengan makan siang bersama.

***

Author: sapto
Print PDF

Dengarkan

Freedom Audio

Kumpulan rekaman
audio dan diskusi Freedom Institute

BUKA PODCAST FREEDOM >>

Freedom Institute

Surat Berkala

Terima undangan dan berita terbaru Freedom Institute  

DAFTAR SURAT BERKALA >>

Baca

Buku Freedom

Temukan koleksi buku terbaru perpustakaan Freedom Institute

Cari disini >>

©2012 FREEDOM INSTITUTE. All rights reserved.

Google+