Achmad Bakrie Award
Nov 05

Penghargaan Achmad Bakrie 2009

SIARAN PERS PENGHARGAAN ACHMAD BAKRIE 2009

Kamis, 13 Agustus 2009

Dalam rangka merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-64, Freedom Institute didukung oleh Bakrie Untuk Negeri memberikan Penghargaan Achmad Bakrie 2009 kepada lima anak bangsa berprestasi dengan pertimbangan:

kp-pabSajogyo (Pemikiran Sosial)
Sajogyo memberikan kontribusi besar dalam menjelaskan garis kemiskinan, kemiskinan relatif, kemiskinan absolut, indeks ukur kemiskinan, elastisitas kemiskinan, dan berbagai ukuran distribusi. Ia menguji konsep-konsep itu langsung dalam studi-studi di lapangan. Tulisan-tulisannya merupakan sumbangan penting bagi ilmu sosial maupun perumusan kebijakan di Indonesia.

Angka-angka pengeluaran nominal rumah tangga bukanlah indikator yang tepat atas standar hidup relatif. Garis kemiskinan yang relevan untuk negara berkembang seperti Indonesia adalah yang langsung merefleksikan kebutuhan hidup terpenting, yaitu kecukupan pangan, yang terwakili oleh beras.

Dengan menggunakan ukuran penghasilan senilai harga beras untuk konsumsi minimal yang layak, Sajogyo menawarkan garis kemiskinan yang lebih realistik, bertumpu pada kebutuhan kalori yang layak (saat ini sekitar 2100 kalori).

Pemikiran Sajogyo yang sederhana namun tuntas dan masuk akal adalah fondasi yang bermanfaat. Lebih dari tiga puluh tahun lalu ia mengumumkan: kemiskinan bukanlah sekadar angka, melainkan realitas yang membutuhkan alat analisis yang juga realistis. Inilah yang kemudian disebut “Garis Kemiskinan Sajogyo.”


Ag. Soemantri (Kedokteran)
Agustinus Soemantri Hardjojuwono merintis terobosan medis di tiga bidang: pencangkokan sumsum tulang belakang, pencangkokan sel punca (stem-cell), dan kepeloporan dalam pemahaman tentang zat besi bagi anak-anak.

Studi hematologinya melahirkan rintisan cangkok sumsum tulang (bone marrow transplant) untuk para penderita talasemia dan leukemia (1987). Hingga kini ia telah menerapkan metode ini pada sekitar 400 pasien.

Ia pun sedang merintis cangkok hati (lever) dan sel punca (stem-cell). Metode ini sudah dipakai di berbagai negara, tetapi belum pernah diadopsi di Indonesia.

Soemantri juga membuat temuan besar tentang gejala kekurangan zat besi (iron deficiency). Ia membuktikan bahwa kekurangan asupan zat besi bisa menghambat pertumbuhan fisik dan mental anak.

Temuan pada 1978 ini yang hingga kini menjadi rujukan penting di dunia akademis internasional. Penelitian ini memang bukan yang pertama. Tetapi riset di negara-negara lain umumnya diarahkan pada anak-anak di bawah usia 5 tahun. Soemantri berfokus pada usia 6 tahun ke atas – masa pertumbuhan intelektual yang penting saat mereka duduk di sekolah dasar (SD).

Inovasi Soemantri kemudian diafirmasi oleh sejumlah penelitian di Mesir, Israel, dan Filipina. Temuan ini makin terasa penting mengingat jumlah anak Indonesia yang mengidap anemia masih cukup tinggi, sekitar 20-30%.

Batas-batas ilmu terus bergerak. Dan Soemantri terus meneliti, mencoba metode baru, menengok perkembangan di negeri lain. Pada diri Soemantri kita menemukan dua karakter yang saling berkelindan: seorang peneliti yang tak henti memajukan batas-batas ilmu dan seorang ilmuwan yang mengabdi tanpa letih bagi kepentingan sosial yang lebih luas.


Pantur Silaban (Sains)
Pantur Silaban merupakan orang Indonesia pertama yang mempelajari secara formal Relativitas Umum di Universitas Syracuse sebagai mahasiswa program doktoral pada 1967, dalam masa-masa awal kebangkitan kembali pokok penting dalam Fisika Teori itu. Lulus doktor empat tahun kemudian, ia resmi menjadi bagian dari komunitas fisikawan yang menjadi kelompok yang sangat elitis pada skala global.

Dalam disertasinya, Silaban berhasil membangun persamaan-persamaan gerak relativistik untuk partikel-partikel titik. Pekerjaan ini kemudian ia kembangkan bersama Joshua Goldberg dan diterbitkan pada Journal of General Relativity and Gravitation yang sangat prestisius.

Fisikawan yang datang kemudian menggunakan karya Silaban tersebut untuk mempelajari gerak partikel-partikel di sekitar lubang hitam dan bintang neutron. Penyingkapan perilaku lubang hitam ini membuka jalan bagi setiap upaya untuk mendapatkan gambaran skenario masa depan Alam Semesta.

Maka terlihat bahwa Pantur Silaban bekerja pada ranah yang amat fundamental dalam Fisika: meliputi sejarah asal-usul hingga masa depan Alam Semesta.

Selain itu, selama empat dasawarsa pergumulannya dengan bidang yang sangat sulit dan jarang diminati ini, Pantur Silaban merintis pengembangan metode-metode matematika dalam melacak konsep simetri dalam Fisika. Salah satu hasilnya adalah kemampuannya menjembatani fisika klasik yang serba deterministik dengan teori medan kuantum yang serba statistik dan diliputi ketidakpastian.


Warsito P. Taruno (Teknologi)
Warsito P. Taruno telah dan terus mengembangkan electrical capacitance volume tomography (ECVT), yakni suatu teknologi tomografi volumetrik berdimensi empat (tiga dimensi ruang dan satu dimensi waktu). Dengan terobosan besar ini, ruang dalam mesin dan manusia serta berbagai dinamik yang bekerja di dalamnya bisa tergelar jelas dengan citraan tiga dimensi dan seketika (real time), tanpa perlu tambahan piranti khusus.

ECTV dapat merekam obyek-obyek bergerak yang berada di dalam talang tertutup, apa pun bentuk dan geometrinya. Pencitraan volumetrik dinamis ini menggunakan prinsip medan listrik statis yang terukur, untuk menghasilkan seluruh citra volumetrik dari obyek yang dikelilingi sensor medan listrik statis.

Warsito menyempurnakan capaian teknis dari tomografi generasi sebelumnya, yang juga bermanfaat untuk bidang medis dan nonmedis, seperti electrical impedance tomography (EIT) yang digunakan di bidang geologi, proses kimia, dan perminyakan; atau electrical capacitance tomography (ECT) untuk bidang pemipaan, pengolahan hidrokarbon, dan industri-industri kimia lainnya.

ECVT yang telah dipatenkan ini sudah digunakan oleh NASA (Lembaga Antariksa AS). Temuan Warsito diperkirakan akan mengubah drastis perkembangan riset dan teknologi berbagai bidang, termasuk nanoteknologi.

ECVT dapat pula menolong pasien miskin yang harus mengecek kesehatan dengan pemindai tubuh. Biaya pemindaian dengan ECVT bisa lebih murah dibanding dengan CT Scan dan MRI.


Danarto (Kesusastraan)
Danarto telah memperluas pengertian realisme dalam sastra Indonesia. Jika realisme adalah potret dunia nyata sehari-hari, yang mengandung hukum sosial yang mendukung perubahan ke arah masyarakat yang lebih baik, maka Danarto,

dengan berbagai cerita pendeknya, menunjukkan warisan masa lalu yang senantiasa memiuhkan atau mengganggu hukum sosial itu.

Cerita pendek Danarto mencerminkan betapa masyarakat kita, melalui tokoh-tokoh cerita pendeknya, menjauhi dan mendekati modernitas silih berganti.

Pembaca Danarto bisa keluar masuk dengan leluasa kapan saja: kita bisa berada di dalam cerita untuk membuktikan bahwa kita sendiri belum bebas dari irrasionalisme; kita bisa juga berada di luar cerita, menonton fantasi yang melawan nalar, tapi yang justru membuat kita yakin akan kekuatan nalar kita.

Selama empat dasawarsa kiprah kepenulisannya, Danarto memanfaatkan berbagai khazanah dominan seperti Jawa dan Islam, namun senantiasa mengambil sisi lain, atau sisi tersembunyi yang berwatak subversif, daripadanya.

Ia menghidupkan kembali gaya mendongeng dalam sastra modern. Tokoh-tokohnya seakan menciptakan arah cerita sendiri. Akhir cerita menjadi tak teramalkan. Atau penghujungnya selalu terbuka, seperti jeda belaka.

Sastra, di tangan Danarto, adalah suatu cara untuk menggumuli modernitas dengan cara yang sangat Indonesia: atau suatu kiat untuk menyelami lubuk jiwa masyarakat pascajajahan yang membaurkan kemajuan dengan segenap cacatnya.

Untuk prestasi, ketekunan, dan sumbangan mereka yang luar biasa bagi bidang masing-masing, Dewan Juri dengan bangga memberi kelima tokoh kita ini Penghargaan Achmad Bakrie 2009.

Bentuk penghargaan berupa trofi dan piagam serta uang Rp 150 juta nett, yang akan diserahkan pada malam penganugerahan pada Jumat, 14 Agustus, bertempat di Hotel Nikko Jakarta, pukul 18.00-21.30.

Terima kasih.

Diumumkan dalam konferensi pers di kantor Freedom Institute, Jalan Irian No. 8, Menteng, Jakarta,


Luthfi Assyaukanie Anggota Dewan Juri

Sekilas tentang Penghargaan Achmad Bakrie


1.Sejarah:
Sudah diberikan sejak 2003 Termasuk tahun ini, sudah 23 tokoh pemikir, penyair, budayawan, dokter, teknolog, rohaniawan, fisikawan, astronomer dan 2 lembaga penerima … dimulai dari keinginan untuk mendorong negeri menjadi lebih maju, yang bermartabat, yang menghargai ilmu dan pengetahuan, negeri yang memberi sumbangan positif bagi perkembangan dan kekayaan kebudayaan dunia – karakter yang melekat pada Alm., Bapak Achmad Bakrie

2.Telah diberikan kepada:
2003: Ignas Kleden dan Sapardi Djoko Damono 2004: Goenawan Mohamad dan Nurcholish Madjid 2005: Sartono Kartodirdjo, Budi Darma, Sri Oemijati 2006: Arief Budiman, Rendra, Iskandar Wahidiyat 2007: Franz Magnis-Suseno, Putu Wijaya, Jorga Ibrahim, Sangkot Marzoki, BB Padi Sukamandi 2008: Taufik Abdullah, Sutardji Calzoum Bachri, Mulyanto, LT Handoko, PP Kelapa Sawit

3.Informasi lebih lanjut:
Hubungi Manajer Program Freedom Institute Sdr. Sugianto Tandra (Aan) 021-31909226 atau 0817851050

- END -
Author: administrator
Print PDF
Nov 05

Penghargaan Achmad Bakrie 2010

Enam Tokoh Raih Penghargaan Achmad Bakrie 2010

Kamis, 5 Agustus 2010


Jakarta, (tvOne).

Freedom Institute memberikan penghargaan Achmad Bakrie pada lima bidang yakni kesusastraan, pemikiran sosial, kedokteran, sains, dan teknologi.

Penghargaan ini merupakan penghargaan tahunan yang diberikan untuk merangsang inovasi dan gagasan yang "cutting edge" di lima bidang tersebut.

Penghargaan Achmad Bakrie pertama kali dirintis pada 2003 yang diselenggarakan oleh Freedom Institute. Awalnya penghargaan diberikan mencakup dua bidang saja yakni kesusastraan dan pemikiran. Kemudian pada 2005, satu bidang ditambahkan lagi yaitu kedokteran. Dua tahun berikutnya pada 2007 dua bidang ditambahkan yakni sains dan teknologi.

Tak seperti tahun sebelumnya, penghargaan Achmad Bakrie 2010 diberikan kepada lima bidang dan ditambahkan satu hadiah khusus yang diberikan kepada peneliti muda dibawah 40 tahun.

Enam tokoh memperoleh penghargaan Achmad Bakrie 2010. Berikut nama penerima penghargaan tersebut: 1. Penghargaan Bidang Sains diperoleh Daniel Murdiyarso, 2. Penghargaan Bidang Pemikiran diperoleh Daoed Joesoef, 3. Penghargaan Bidang Kesusastraan diperoleh Sitor Situmorang 4. Penghargaan Bidang Teknologi diperoleh Sjamsoe'oed Sadjad 5. Penghargaan Bidang Kedokteran diperoleh S. Yati Soenarto 6. Penghargaan Hadiah Khusus diperoleh Ratno Nuryadi.

Hadiah ini dinamai Penghargaan Achmad Bakrie karena untuk mengenang almarhum Achmad Bakrie yang pada masa hidupnya mempunyai perhatian yang besar untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan kebudayaan di Indonesia. Secara tak langsung, ini hendak meniru teladan baik yang dicontohkan oleh Alfres Nobel yang merupakan seorang pengusaha sukses Swedia yang kemudian merintis Hadiah Nobel.

at

Sumber :
http://nasional.tvone.co.id/berita/view/42528/2010/08/05/enam_tokoh_raih_penghargaan_achmad_bakrie_2010/

Author: administrator
Print PDF
Nov 05

Penghargaan Achmad Bakrie 2011

SIARAN PERS

Penghargaan Achmad Bakrie 2011

Kamis, 28 Juli 2011


Untuk ke-9 kalinya, setiap menjelang perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, Freedom Institute didukung oleh Bakrie Untuk Negeri memberikan Penghargaan Achmad Bakrie kepada enam anak bangsa yang berprestasi. Untuk tahun 2011, Penghargaan Achmad Bakrie diberikan kepada:

Adrian B. Lapian (Pemikiran Sosial)

imageAdrian B. Lapian adalah sejarawan maritim yang membuka lembaran baru penulisan sejarah kawasan Indonesia dan Asia Tenggara. Tanpa henti ia mengingatkan bahwa Indonesia adalah ‘negara laut utama’ yang ditaburi dengan pulau-pulau, bukan negara pulau-pulau yang dikelilingi laut.

Bukunya, Orang Laut-Bajak Laut-Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX, memberi sudut pandang baru yang segar dan berbeda terhadap penulisan sejarah yang bertumpu pada pengalaman manusia di daratan, merombak pemahaman tentang bajak laut dalam sejarah Indonesia, dan mengoreksi citra kemerosotan pelayaran pribumi pada abad ke-18 dan ke-19.

Bagi Lapian, ilmu sejarah tidak hanya sekadar suatu latihan akademis yang eksotik, tapi sejarah memainkan peran penting dalam menjaga episodic memory bagi pembinaan kewarasan berbangsa. Sebagai sejarawan, Lapian bak pluit kapal yang santer dan tak henti-hentinya mengingatkan ihwal kebaharian kita. Menurutnya, melupakan lautan membuat Indonesia menjadi bangsa yang ‘ketinggalan kapal’ dan membuat masa depannya tercecer tak karuan.

Anthony Reid, sejarahwan terkemuka asal Australia, pernah berkata: “tidak ada sarjana Indonesia yang mendemonstrasikan keahliannya sebagai sejarawan lebih baik dari Adrian B. Lapian.” Lapian pantas mendapat pujian ini, sebab ia telah membuka lembaran baru dalam penulisan sajarah Indonesia. Ia merintis jalan baru studi sejarah Indonesia sebagai sea system sebagai satuan-satuan jaringan bahari yang berproses menjadi satu-kesatuan wilayah besar yang saling terintegrasi.

*) Adrian B. Lapian wafat di Jakarta pada 19 Juli 2011, sebulan setelah Dewan Juri memutuskannya sebagai penerima PAB 2011 untuk Pemikiran Sosial.



Nh. Dini (Kesusastraan)

imageSepanjang karirnya sebagai penulis, Nh. Dini telah memperkuat realisme, merintis ideologi anti-patriarki, dan mendalami novel autobiografis, dalam sastra berbahasa Indonesia. Sastra ”realisme fotografis”-nya kaya dengan detail. Pencapaiannya menonjol dalam menggali dunia perempuan, termasuk seksualitas tersembunyi, khususnya perempuan Jawa.

Novel-novelnya menjadi induk dari novel-novel populer yang ditulis pengarang perempuan, juga menjadi pendahulu bagi karya sejumlah penulis-perempuan yang sejak akhir 1990-an mendorong lebih jauh lagi feminisme ke arah pengungkapan seks dan seksualitas. Novel-novel otobiografisnya sanggup melebur antara kenyataan faktual dan kenyataan fiksional dengan baik.

Dalam sastra Indonesia, dunia perempuan sebelumnya hampir selalu dilukiskan oleh pengarang laki-laki. Tetapi Dini merebut itu semua dan menegaskan bahwa perempuan hanya bisa tampil wajar dalam fiksi jika dikisahkan oleh perempuan sendiri. Perempuan memiliki suaranya sendiri yang bukan lagi pemalsuan dari suara laki-laki.

Dalam novel autobiografis riwayat hidup si pengarang menjadi bahan utama pengisahan. Tetapi hanya pengarang yang cemerlang seperti Dinilah yang sanggup melebur antara kenyataan faktual dan kenyataan fiksional dengan amat baiknya.

Beda Dini dari para penerusnya adalah novel-novelnya hadir dengan kualitas bahasa yang tetap terjaga. Kalimat-kalimatnya kokoh, pelukisannya tentang sesuatu tampak halus, kadang samar-samar, sehingga memberikan kesempatan kepada pembaca untuk menerka-nerka.

Satyanegara (Kedokteran)

imageSejak 1967, Satyanegara melakukan kajian imunologi tumor otak. Ia menemukan protein dan antibodi spesifik tumor yang dapat menghambat pertumbuhan dan memusnahkan sel-sel tumor tersebut. Pengalaman klinis dan berbagai kajiannya mengenai tumor otak, mendorongnya melengkapi berbagai alat penunjang diagnostik bedah saraf di Indonesia.

Satyanegara merupakan pelopor yang menentukan standar rumah sakit di Indonesia berdasarkan riset-riset kedokteran terbaru di dunia. Ia juga penulis satu-satunya buku teks ilmu bedah saraf dalam bahasa Indonesia. Ia layak disebut sebagai peletak fondasi sekaligus wali ilmu bedah saraf di Indonesia.

Satyanegara berperan besar dalam penggunaan immunoterapi sebagai terapi alternatif, yang banyak diterapkan untuk kasus-kasus tumor jenis glioma, di mana sistem imunitas tubuh menurun. Pasien glioma yang diterapi terutama adalah yang mempunyai harapan hidup panjang, atau tidak menjalani tindakan terapi lainnya.

Penelitian Satyanegara mengenai tumor otak turut mendorong dilengkapinya berbagai alat penunjang diagnostik di Indonesia. Ia mendorong pemasangan CT scan pertama kali di RS Gatot Subroto pada Februari 1980. Ia juga menentukan dalam penggunaan sinar laser untuk pembedahan otak di RS Pusat Pertamina, penggunaan MRI di RS. Dr.Ciptomangunkusumo, disusul RS. Pusat Pertamina, pada 1990. Kehadiran Digital Substraction Angiography (DSA) untuk mendiagnosa kelainan vaskuler otak di RS. Pusat Pertamina sejak 1992 terjadi antara lain karena peran Satyanegara.

Jatna Supriatna (Sains)

imageJatna Supriatna adalah ilmuwan biologi dan pejuang konservasi terkemuka. Ia memperteguh pentingnya Wallace Area dengan menjadikan Sulawesi dan pulau-pulau sekitarnya sebagai laboratorium alam untuk mendeduksi proses evolusi. Ia menemukan intergradasi sekunder dan hibridisasi di kawasan tersebut.
Primata hibrid yang ditemukannya menarik perhatian dunia, sebab hibridisasi memungkinkan terjadinya perubahan genetik dan perilaku serta sifat-sifat biologi lainnya. Selain primata hibrid dan monyet spesies baru, ia juga menemukan virus baru pada monyet ekor panjang Jawa Barat.
Di tengah kesibukannya sebagai peneliti dan pengajar, Jatna juga memimpin beberapa lembaga penting yang terkait dengan profesinya sebagai biolog. Pada 1999 dia dipilih sebagai ketua Indonesia Biologist Association. Pada 2006, dia ditunjuk sebagai presiden South East Asia Primatologist Association, dan pada 2007 dia menjadi salah satu ketua World Conservation Union-SSC PSG South East Asia.
Jatna telah menulis 10 buku tentang keanekaragaman hayati dan lingkungan Indonesia, dan telah mempublikasikan lebih dari 100 artikel yang tersebar di berbagai jurnal ilmiah Internasional.

F.G. Winarno (Teknologi)

imageSelain meletakkan dasar dan mengembangkan ilmu pangan di Indonesia, F.G. Winarno juga memberi karakter pada pertumbuhan teknologi pangan di tanahair, yakni keamanan pangan dan teknologi tepat guna. Ketahanan pangan berhubungan dengan daya saing bangsa. Kondisi ketahanan pangan yang baik akan meningkatkan status kesehatan, yang akan mendongkrak kinerja sumberdaya manusia, dan secara nasional mendorong pertumbuhan ekonomi.

F.G. Winarno memahami betul arti penting ketahanan pangan. Secara konsisten, ia mengkampanyekan pentingnya peranan kecukupan gizi di tingkat individu, agar mampu hidup sehat dan produktif. Ia mendorong pemenuhan gizi ibu “andungteki” atau ibu mengandung dan ibu yang menyusui bayi. Winarno meyakini, jika suatu negara ingin memiliki sumberdaya berkualitas tinggi, maka yang harus dilakukan adalah menjamin bahwa setiap bayi yang dilahirkan bisa mendapatkan asupan gizi yang cukup dan berkualitas.

Melihat betapa seringnya dijumpai bayi lahir dalam kondisi gizi yang buruk, Winarno aktif dalam program peningkatan gizi untuk ibu sehingga bayi yang lahir akan sehat, dan sang ibu mampu memberikan air susu (ASI) yang berkualitas.

Keyakinan itulah yang mendorongnya mendirikan Pusat Pengembangan Teknologi Pangan (Pusbangtepa), sebuah lembaga di IPB yang dibiayai Bank Dunia. Melalui lembaga yang dipimpinnya, Winarno mengembangkan ilmu dan teknologi pangan, yang dituntun oleh kesadaran mengenai kondisi budaya dan ekonomi masyarakat Indonesia.

Teknologi yang dikembangkannya bukan teknologi canggih; tetapi lebih berupa teknologi tepat guna. Selain melahirkan beraneka jenis teknologi yang langsung dibutuhkan masyarakat, Pusbangtepa juga mengembangkan berbagai program pendidikan pangan dan gizi, agar masyarakat mampu memilih dan mengolah sumber pangan yang ada di sekitarnya menjadi menu pangan bergizi.

Hokky Situngkir (Hadiah Khusus untuk Ilmuwan Muda Berprestasi)

imageHokky Situngkir telah melakukan banyak penelitian menarik. Bahan-bahan penelitiannya penting dan pendekatannya tidak tradisional. Dengan sadar Hokky memanfaatkan teknologi modern. Bersama Rolan Dahlan, ia menerbitkan buku Fisika Batik, yang menyorot unsur fraktal dalam motif-motif batik Nusantara. Ia juga mendirikan Indonesia Archipelago Cultural Initiatives (IACI) dan mewujudkan Ensiklopedi Budaya Nusantara.

Hokky telah menghasilkan lebih dari seratus makalah ilmiah. Hasil penelitiannya dimuat di berbagai proceedings konferensi dan jurnal internasional bergengsi lainnya. Di jurnal Physica A, Hokky Situngkir membahas penggunaan persepsi jaring saraf buatan pada peta Poincare data keuangan.

Di Journal of Knowledge Management, ia membahas evolusi sistem ekonomi. Karyanya juga dimuat di Journal of Social Complexity, Journal of Peace and Conflict Resolution, Journal of Literary Complexity Studies, Journal of Mathematics and Culture, serta berbagai proceedings konferensi dan jurnal internasional bergengsi lainnya.

Prestasi-prestasi penelitian tersebut memberikan kesempatan kepadanya untuk tampil dan berbicara di berbagai konferensi ilmiah internasional. Di usia 25 tahun, ia telah mendapatkan kehormatan untuk berbicara di Applications of Physics in Financial Analysis untuk mempresentasikan karyanya dalam penggunaan persepsi jaring saraf buatan dalam analisis data keuangan.

Pada usia 27, ia telah diundang untuk mempresentasikan karyanya dalam kajian studi pasar modal artifisial di New Economic Windows, sebuah pertemuan ekslusif yang diikuti sejumlah peraih nobel dan sangat menentukan dalam mengarahkan kurikulum ekonomi ke depan.

Dalam 2 tahun terakhir, Hokky telah mendapatkan 5 penghargaan, untuk karya yang berbeda dari Business Innovation Center bersama Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia. Hokky juga adalah pembimbing berprestasi bagi para peneliti belia, dalam aktivitasnya bersama Surya Research International dan Surya Institute.

Beberapa orang siswa binaannya mendapatkan medali emas di International Conference of Young Scientists dan First Step to Nobel Prize in Physics.

Atas prestasi, ketekunan, dan sumbangan mereka yang luar biasa bagi bidang masing-masing, Freedom Institute dengan bangga memberi para tokoh dan ilmuwan tersebut Penghargaan Achmad Bakrie 2011.

Bentuk penghargaan berupa trofi dan piagam serta uang Rp 250 juta, yang akan diserahkan pada malam penganugerahan pada Minggu, 14 Agustus 2011, bertempat di XXI Ballroom Djakarta Theatre, Jakarta, pukul 18.00-22.00.

Terima kasih.

Luthfi Assyaukanie
Perwakilan Dewan Juri




Informasi lebih lanjut:
Hubungi Manajer Program Freedom Institute Sdr. Sugianto Tandra (Aan) 021-31909226 atau 0817851050


Download Buku Program Achmad Bakrie 2011

Author: administrator
Print PDF

Dengarkan

Freedom Audio

Kumpulan rekaman
audio dan diskusi Freedom Institute

BUKA PODCAST FREEDOM >>

Freedom Institute

Surat Berkala

Terima undangan dan berita terbaru Freedom Institute  

DAFTAR SURAT BERKALA >>

Baca

Buku Freedom

Temukan koleksi buku terbaru perpustakaan Freedom Institute

Cari disini >>

©2012 FREEDOM INSTITUTE. All rights reserved.