Achmad Bakrie Award
Nov 05

Penghargaan Achmad Bakrie 2004

Untuk lebih mendorong terciptanya lingkungan yang kondusif bagi kepeloporan di bidang pemikiran sosial-budaya dan kesusastraan, Freedom Institute memberikan penghargaan tahunan yang diberi nama Penghargaan Achmad Bakrie. Usaha ini merupakan bagian dari tujuan Freedom Institute yang lebih besar, yakni memajukan kehidupan pemikiran di Indonesia. Untuk tahun kedua (2004) Penghargaan Achmad Bakrie diberikan kepada Goenawan Mohamad (bidang kesusastraan) dan Nurcholish Madjid (bidang sosial-budaya).
Di bidang kesusastraan, penghargaan tahun ini diberikan kepada Goenawan Mohamad karena penyair yang juga esais ini dipandang telah melakukan pengabdian untuk bidang ini selama hampir setengah abad. Dan bukan hanya itu, penandatangan Manifes Kebudayaan (1964) ini juga dianggap telah menghidupkan dan memperbaharui bahasa Indonesia, serta membuat bahasa yang masih muda ini setara dengan bahasa-bahasa yang telah tua dan mapan di dunia.
Di bidang sosial-budaya, penghargaan diberikan kepada Nurcholish Madjid karena pemikir Islam ini dianggap telah memperkenalkan cara keberislaman baru di Indonesia. Pemikirannya di bidang keislaman dianggap tidak hanya berpengaruh di lingkungan akademis, melainkan juga di kalangan publik luas.

Author: administrator
Print PDF
Nov 05

Penghargaan Achmad Bakrie 2005

Penghargaan Achmad Bakrie 2005

Jum'at, 19 Agustus 2005


abaHari/Tanggal: Senin, 15 Agustus 2005
Jam: 18.30-selesai
Tempat: Hotel Nikko-Jakarta

Freedom Institute hendak mengusahakan lingkungan yang menyebarkan keperintisan di bidang pemikiran sosial dan kesusastraan. Usaha ini merupakan bagian dari tujuan Freedom Institute yang lebih luas, yaitu memajukan kehidupan intelektual di Indonesia. Salah satu visi dasar lembaga ini adalah bahwa kehidupan pemikiran yang bebas, sarat dengan perdebatan yang produktif, penuh antusiasme, dan dilandasi oleh integritas intelektual yang tinggi merupakan unsur penyubur kehidupan demokrasi. Dengan kata Lain, kehidupan pemikiran yang subur dan bebas adalah modal sosial bagi demokrasi di Indoensia.

Tradisi penghargaan atas karya pemikiran dan penciptaan artistik sudah menjadi praktik lazim dalam dunia intelektual. Penghargaan berskala internasional seperti Hadiah Nobel selalu menjadi impian para perintis pemikiran dan penciptaan di seluruh dunia. Tradisi serupa juga di kenal di Indonesia, meski belum mangakar dan mencapai reputasi yang kokoh. Kita mengenal, antara lain, penghargaan tahunan oleh Yayasan Buku Utama untuk buku-buku terbaik dalam berbagai bidang. Sejumlah lembaga atau pribadi di beberapa daerah juga merintis pemberian penghargaan yang serupa, khususnya di bidang kesusastraan.

Freedom Institute mencoba meneruskan tradisi pemberian penghargaan di bidang kreativitas akal budi ini dengan Penghargaan Achmad Bakrie, yang diberikan setiap tahun pada Agustus, bulan kemerdekaan negeri kita. Pengharagaan untuk "prestasi seumur hidup" ini diberikan untuk dua kategori: prmikiran sosial dan kesusastraan.

Penghargaan Achmad Bakrie pertama kali diberikan pada 2003, dengan pemenang Ignas Kleden untuk pemikiran sosial dan Sapardi Djoko Damono untuk kesusastraan. Pada 2004, penghargaan yang sama dianugerahkan kepada masing-masing Nurcholis Madjid dan Goenawan Mohamad. Penghargaan Achmad Bakrie 2005 diberikan kepada Sartono Kartodirdjo dan Budi Darma, masing untuk pemikiran sosial dan untuk kesusastraan. Tahun ini pula Freedom Institute memberikan penghargaan khusus bidang Kedokteran untuk Sri Oemijati.

Author: administrator
Print PDF
Nov 05

Penghargaan Achmad Bakrie 2006

Penghargaan Achmad Bakrie 2006

Jum'at, 11 Agustus 2006


abaHari/Tanggal: Senin, 14 Agustus 2006
Jam: 18.30-selesai
Tempat: Hotel Nikko, Ruang Diamond - Jakarta

Freedom Institute percaya bahwa kehidupan pemikiran yang bebas, yang sarat dengan perdebatan yang produktif, penuh antusiasme, dan dilandasi oleh integritas intelektual yang tinggi merupakan unsur penyubur kehidupan demokrasi. Dengan kata lain, kehidupan pemikiran yang subur dan bebas adalah modal sosial bagi demokrasi di Indonesia. Itulah sebabnya Freedom Institute mengupayakan lingkungan yang mendukung lahirnya kepentingan, pencapaian, maupun pengabdian dalam kesenian dan ilmu pengetahuan.

Penghargaan untuk karya pemikiran, penelitian, dan penciptaan artistik sudah menjadi praktik lazim dalam dunia intelektual. Penghargaan berskala internasioanl seperti Hadiah Nobel selalu menjadi impian para perintis pemikiran dan penciptaan di seluruh dunia. Tradisi serupa juga terkenal di Indonesia, meski belum mangakar dan mencapai reputasi yang kokoh. Kita pernah mengenal, antara lain, penghargaan tahunan oleh Yayasan Buku Utama untuk buku-buku terbaik dalam berbagai bidang. Sejumlah lembaga atau pribadi di beberapa daerah juga merintis pemberian penghargaan serupa, khususnya di bidang kesustraan adan kesenian.

Freedom Institute meneruskan tradisi pemberian penghargaan di bidang kreativitas akal budi ini dengan Penghargaan Achmad Bakrie sejak tahun 2003, pada setiap menjelang Hari Kemerdekaan, untuk pemikiran sosial dan kesusastraan, dan, sejak 2005, kedokteran. Para pemenang Penghargaan ini adalah mereka yang telah menghasilkan prestasi puncak sekaligus memperbaharui bidang masing-masing.

Mereka yang telah mendapat Penghargaan Achmad Bakrie adalah Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, dan Budi Darma (sastra), Ignas Kleden, Nurcholis Madjid, dan Sartono Kartodirdjo (pemikiran sosial), dan Sri Oemijati (kedokteran). Adapun pemenang tahun ini adalah Arief Budiman (pemikiran sosial), Rendra (sastra), dan Iskandar Wahidiyat (kedokteran).

Author: administrator
Print PDF
Nov 05

Penghargaan Achmad Bakrie 2007

Penghargaan Achmad Bakrie 2007

Senin, 13 Agustus 2007


abaHari/Tanggal: Selasa, 14 Agustus 2007
Jam: 18.30-21.30
Tempat: Hotel Nikko, Ruang Diamond - Jakarta

Freedom Institute percaya bahwa kehidupan pemikiran yang bebas, yang sarat dengan perdebatan yang produktif, penuh antusiasme, dan dilandasi oleh integritas intelektual yang tinggi meru­pakan unsur penyubur kehidupan demokrasi. Dengan kata lain, kehidupan pemikiran yang subur dan bebas adalah modal sosial bagi demokrasi di Indonesia. Itulah sebabnya Freedom Institute meng­upayakan lingkungan yang mendukung lahirnya keperintisan, penca­paian, maupun pengabdian dalam kesenian dan ilmu pengetahuan. Penghargaan untuk karya pemikiran, penelitian, dan penciptaan artistik sudah menjadi praktik lazim dalam dunia intelektual. Penghar­gaan berskala internasional seperti Hadiah Nobel selalu menjadi impian para perintis pemikiran dan penciptaan di seluruh dunia. Tradisi serupa juga dikenal di Indonesia, meski belum mengakar dan mencapai repu­tasi yang kokoh. Kita pernah mengenal, antara lain, penghargaan tahunan oleh Yayasan Buku Utama untuk buku-buku terbaik dalam berbagai bidang. Sejumlah lembaga atau pribadi di beberapa daerah juga merintis pemberian penghargaan serupa, khususnya di bidang kesusastraan dan kesenian.

Freedom Institute meneruskan tradisi pemberian penghargaan di bidang kreativitas akal budi ini dengan Penghargaan Achmad Bakrie sejak 2003, pada setiap menjelang Hari Kemerdekaan, untuk pemikiran sosial dan kesusastraan, sejak 2005 menambah penghargaan untuk kedokteran.Dan di tahun 2007 ini untuk sains dan teknologi. Para pemenang penghargaan ini adalah mereka yang telah menghasilkan prestasi puncak sekaligus memperbaharui bidang masing-masing.

Mereka yang telah beroleh Penghargaan Achmad Bakrie adalah Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, Budi Darma, dan Rendra (sastra), Ignas Kleden, Nurcholish Madjid, Sartono Karto­dirdjo, dan Arief Budiman (pemikiran sosial), dan Sri Oemijati dan Iskandar Wahidiyat (kedokteran). Adapun pemenang tahun ini adalah Putu Wijaya (sastra), Franz Magnis-Suseno (pemikiran sosial), Sang­kot Marzuki (kedokteran), Jorga Ibrahim (sains), dan Balai Besar Pene­litian Tanaman Padi (BB Padi) Sukamandi, Subang (teknologi). •

Author: administrator
Print PDF
Nov 05

Penghargaan Achmad Bakrie 2008

Ringkasan Alasan Juri Memberikan Penghargaan Achmad Bakrie 2008

Rabu, 13 Agustus 2008


1. Taufik Abdullah
Sebagai seorang ilmuwan sosial, Taufik menyadari betul pentingnya pandangan multidimensional terhadap sejarah. Penulisan sejarah tak cukup hanya bermodalkan pengetahuan tentang kronologi peristiwa. Disiplin keilmuan seperti sosiologi, antropologi, politik, dan ekonomi, merupakan instrumen penting dalam melihat peristiwa kesejarahan di masa silam. Pendekatan multidimensional membantu sejarahwan melihat persoalan secara lebih utuh.
Sejarah yang baik adalah sejarah yang mengisahkan tentang keadaan yang sesungguhnya, bukan keadaan yang diinginkan atau dibayangkan seorang sejarahwan. Untuk itu diperlukan berbagai perspektif dan pendekatan dalam menulis sejarah. Pendekatan yang keliru akan menuju pada kesimpulan yang keliru.
Taufik Abdullah berpandangan bahwa sejarah harus dibiarkan sebagai wacana intelektual. Ia tidak boleh menjadi alat propaganda. Sejarahwan dan para pengajar sejarah harus terus mengingatkan bahwa sejarah adalah hasil rekonstruksi atas serpihan-serpihan peristiwa masa silam, yang penuh dengan kepentingan dan subyektifisme.
Sejarah adalah berita pikiran hasil interaksi dan negosiasi penulisnya dengan realitas masa silam yang dihadapinya. Sebagai “berita pikiran” sejarah harus dibongkar, digugat, dan dipertanyakan terus-menerus, untuk kemudian dikonstruksi kembali menjadi narasi baru yang lebih sahih.

2. SUTARDJI CALZOUM BACHRI
Dalam puisi Sutardji Calzoum Bachri, bahasa Indonesia tampak sangat modern, pascamodern, sekaligus purba. Kiprahnya adalah usaha yang tiada henti dalam merebut kembali hidup kata yang telanjur dibeku-bakukan dalam kamus dan konvensi.
Puisi Sutardji menyadarkan kita bahwa ada banyak modus komunikasi yang terjadi di luar bahasa. Justru dengan menggunakan kata, ia dengan ironis menyatakan apa yang tak bisa disampaikan oleh kata atau justru melampaui kata itu sendiri. Bahasa seakan dikembalikan kepada kondisinya sebelum ia tunduk kepada hukum tata bahasa.
Kata dalam puisi Sutardji seperti pemain yang bergerak mencari kemungkinan arah dan tujuannya sendiri karena, antara lain, si penyair memainkan kelas kata—misalnya mengalih-gunakan katabenda jadi kata sifat, dan katakerja jadi katabenda.
Sutardji meradikalkan puisi bebas. Pada mayoritas penyair kita, puisi bebas sekadar upaya untuk membebaskan diri dari pola mapan; atau, puisi bebas sekadar puisi yang mendekat ke prosa. Pada Sutardji, puisi bebas adalah konsekuensi dari rangkaian kalimat atau frase yang tak stabil, yang saling membentur demi membentuk keseluruhan yang tak teramalkan.
Sutardji Calzoum Bachri menemukan kembali mantra. Di masa dahulu, mantra memberi tuah dan penyembuhan; di masa kini, mantra Sutardji memulihkan tenaga bahasa yang telanjur dimelaratkan oleh komunikasi massa.

3. MULYANTO
Dokter Mulyanto membuktikan bahwa keahlian yang memenuhi standar akademis internasional, ketekunan, semangat untuk mengaitkan diri dengan komunitas ilmiah global, komitmen penuh pada bidang ilmunya, dan kegigihan untuk menyediakan sarana kesehatan yang terjangkau masyarakat miskin dapat membuahkan hasil yang hebat, sangat praktis, murah dan melampaui capaian para koleganya di negara-negara maju.
Selama tiga dekade, Mulyanto bekerja tekun di Laboratorium Hepatika di Mataram yang sepi dan jauh dari reputasi ilmiah.
Ia mengembangkan penggunaan reagen dengan perangkat dipstick yang amat sederhana, tapi mampu mendeteksi penyakit yang masih lazim di masyarakat berkembang seperti malaria, juga hepatitis B dan hepatitis C, bahkan HIV.
Kepraktisan metode dan perangkatnya mampu memotong rantai proses di laboratorium uji klinis yang panjang, rumit dan mahal. Imunokromatografi hasil inovasi Mulyanto berupa kertas tipis nitroselulose berisi unsur cairan dan sel darah, antibodi, protein virus, antigen dan koloid emas, yang dibungkus kaset pipih berbahan plastik transparan sepanjang 8 cm, lebar 1 cm dan tebal 0,5 cm.
Dengan alat sederhana itu, siapapun bisa melakukan tes sendiri. Dan imunokromatografi Mulyanto yang sederhana dan murah tersebut mencapai sensitifitas 100 persen, dengan tingkat akurasi 97 persen.

4. LAKSANA TRI HANDOKO
Laksana Tri Handoko adalah satu dari sejumlah fisikawan di dunia ini yang merintis usaha memburu partikel Higgs, yakni partikel hipotetis yang bisa menjawab pertanyaan “dari mana asal-usul massa materi.” Dirumuskan dalam bahasa umum, pertanyaan ini berbunyi “mengapa benda mempunyai berat”.
Dalam ilmu fisika modern dikenal Model Standar yang dapat menjelaskan gejala alam di ranah mikroskopik di mana gaya-gaya elektromagnetik, nuklir lemah dan nuklir kuat bekerja. Sebanyak 16 partikel elementer yang diramalkan Model Standar ini sudah berhasil diobservasi berbagai eksperimen. Tapi, ada satu partikel hipotetis yang dinamakan partikel Higgs yang sampai saat ini belum terkonfirmasi.
Handoko memburu partikel Higgs dengan kajian matematika maupun eksperimen di laboratorium.
Handoko memilih skenario perburuan partikel Higgs dengan memanfaatkan temuan bahwa neutrino (yakni partikel elementer yang tak bermuatan) ternyata bermassa. Instrumen matematik yang bernama Teori Supersimetri ia coba terapkan dalam konteks ini. Belasan publikasi di jurnal fisika tingkat dunia telah ia hasilkan baik berupa karya mandiri maupun dalam kolaborasi dengan fisikawan lain.

5. PUSAT PENELITIAN KELAPA SAWIT
Dengan meneliti, menghimpun dan menemukan berbagai pengetahuan dan teknologi kelapa sawit, lembaga ini termasuk paling maju di dunia dalam bidangnya. Banyak negara mengandalkan rencana pengembangan perekonomian kelapa sawit kepadanya. Dengan sumbangannya pula, sejak 2007 Indonesia menjadi negara penghasil minyak sawit mentah terbesar di dunia, dan produk sawit menjadi komoditas ekspor terbesar negara kita setelah minyak dan gas alam.
Ditopang oleh koleksi plasma nutfah terlengkap di dunia, Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) menjadi lembaga yang paling subur memproduksi varietas baru. Di laboratorium kultur jaringan terbesar di dunia untuk jenisnya, PPKS meneliti teknologi pemuliaan sawit yang berpotensi mengubah masa depan industri sawit. Di samping itu, lembaga ini praktis meneliti segala hal yang berkaitan dengan perkebunan sawit dari hulu hingga ke hilir.
PPKS adalah contoh terbaik di Indonesia dalam hal pertautan antara riset ilmiah-teknologis dengan kegiatan bisnis dan non-bisnis. Dari sebagian hasil risetnya sendiri, PPKS sanggup mandiri secara finansial, sambil membantu sejumlah kegiatan riset pekebunan di tempat lain di Indonesia. Banyak buah karya PPKS yang siap tumbuh menjadi bisnis besar industri hilir yang potensial membentuk lapangan kerja dan mengangkat pendapatan negara.

- END -

Author: administrator
Print PDF

Dengarkan

Freedom Audio

Kumpulan rekaman
audio dan diskusi Freedom Institute

BUKA PODCAST FREEDOM >>

Freedom Institute

Surat Berkala

Terima undangan dan berita terbaru Freedom Institute  

DAFTAR SURAT BERKALA >>

Baca

Buku Freedom

Temukan koleksi buku terbaru perpustakaan Freedom Institute

Cari disini >>

©2012 FREEDOM INSTITUTE. All rights reserved.