Laporan Diskusi: Merayakan Kembali Gagasan Margaret Thatcher
Jul 01

Laporan Diskusi: Merayakan Kembali Gagasan Margaret Thatcher

Tidak banyak tokoh di peringatan wafatnya dikenang kembali gagasan dan pemikirannya. Sebagian besar biasanya hanyalah sanjung-sanjungan dan pujian semata. Salah satu dari sedikit tokoh tersebut adalah Margaret Thatcher. Tokoh perempuan dunia yang menjadi pernah menjabat sebagai Perdana Menteri (PM) Inggris ini dianggap sebagai salah satu tokoh yang paling berpengaruh di Inggris, karena mengubah Inggris dari keterpurukan menjadi kuat dan berdaulat di mata internasional. Thatcher juga mempunyai banyak gagasan ekonomi yang progressif dengan memprivatisasi perusahaan-perusahaan negara yang inefisien. Untuk membahas dan merayakan kembali gagasan Thatcher, Freedom Institute menggelar diskusi ‘Mengenang Margaret Thatcher” bersama Faisal Basri (Dosen FE UI) dan Rizal Mallarangeng (Direktur Eksekutif Freedom Institute).

Faisal Basri yang mendapat giliran berbicara pertama menjelaskan tentang kondisi perekonomian Inggris sebelum masa Thatcher. Pada masa-masa sebelum Thatcher, dunia sedang dilanda suatu fenomena baru dalam ekonomi yang disebut stagflas. Untuk kembali merangsang pertumbuhan ekonomi, maka diatasi dengan dua cara resep ekonomi yang berbeda dengan resep Keynesian pada krisis 1930. Bila pada krisis 1930, pemerintah menghabiskan dana, maka dalam situasi stagflasi pemerintah justru harus menahan dana negara sebanyak-banyaknya. Hal ini dimaksudkan gara sektor swasta bisa kembali tumbuh. Hal kedua untuk mengatasi hal ini adalah dengan memotong pajak (tax rate). Walaupun begitu, menurut Faisal, Thatcher tidak mengambil langkah revolusioner dalam mengatasi situasi stagflasi ini demi menghindari ongkos sosial-politik. Thatcher hanya memotong anggaran negara sebesar-besarnya dengan privatisasi agar negara tidak defisit yang kemudian akan membantu sektor swasta tumbuh. Pada saat itu hampir semua public housing adalah dimiliki oleh negara dan disubsidi.

Faisal Basri meluruskan kebijakan privatisasi Thatcher yang selama ini disalahpahami publik. Privatisasi yang dilakukan Thatcher adalah bentuk demokratisasi kepemilikan perusahaan negara, karena sahamnya dijual murah kepada para buruh. Ini juga cara jitu untuk menaklukkan serikat buruh yang pada masa itu teramat kuat. Bahkan cenderung semena-mena. Prestasi Thatcher pada saat itu adalah mencoba mengubah keseimbangan yang jomplang antara serikat buruh dan dunia bisnis. Maka Thatcher melakukan beberapa pelemahan terhadap serikat buruh. Faisal percaya pada keseimbangan pendulum, bahwa keseimbangan antara negara, pasar, dan buruh haruslah seimbang. Tidak boleh satu mendominasi yang lainnya.

Rizal Mallarangeng menyebut bahwa Thatcher bukan hanya pengubah ekonomi Inggris, tapi juga pengubah arus gagasan dan pemikiran dunia. Pengaruh Thatcherisme tidak hanya berada di Inggris, tetapi juga sampai ke Indonesia. Pada periode tertentu orde baru, Widjojo Nitisastro dkk juga melakukan deregulaasi pasar modal dan bea cukai. Tidak hanya dalam tataran kebijakan, dalam wacana ekonomi-politik pada saat itu juga Thatcherisme ikut menambah seru perdebatan. Ini ditandai dengan terbitnya buku karangan policy staff dari Thatcher, John Redwood berjudul “Kapitalisme Rakyat” terjemahan dari Popular Capitalism.

Menurut Rizal tiga hal bertemu sekaligus untuk sosok seperti Thatcher. Pertama, momentum sejarah yang membuka kemungkinan perubahan. Dimana masa-masa sebelum Thatcher sangat dipengaruhi keynesian, negara sangat dominan dalam perekonomian. Walaupun berhasil di tahun 1950-an, tapi ternyata tidak berhasil pada masa Thatcher. Pengeluaran uang negara di sektor-sektor tertentu tidak lagi ampuh menangani krisis, tapi menyebabkan apa yang disebut stagflasi. Thatcher membawa gagasan yang bisa mengatasi krisis tersebut. Kedua, adanya gagasan alternatif yang bisa menggantikan gagasan sebelumnya. Gagasan negara yang dominan dalam perekonomian telah terbukti gagal di masa-masa Thatcher. Kemudian muncul gagasan yang dibawa oleh Friedrich Hayek dan Milton Friedman yang ternyata bisa mengatasi fenomena stagflasi.Ketiga, adanya tokoh yang mempunyai kualitas membawa perubahan. Hal ini hadir pada sosok Margaret Thatcher, yang tidak hanya berhasil menjadi politisi karir di partai konservatif. Tetapi juga berhasil sebagai seorang perempuan diantara banyak politisi laki-laki.

Terakhir, Rizal berharap perjalanan demokrasi Indonesia bisa melahirkan pemimpin seperti Thatcher. Partai seharusnya bisa menjadi ajang pertarungan gagasan. Walaupun masih banyak masalah, Rizal yakin politik Indonesia menuju arah yang meyakinkan. Banyak perusahaan-perusahaan negara yang masuk ke pasar modal. Paradigma perusahaan negara juga tidak lagi seperti tahun 20-an. Negara dan pasar masih seimbang, walaupun butuh banyak reposisi yang lebih baik lagi.

*Ditulis oleh Rofi Uddarojat, pegiat Akademi Merdeka Indonesia.

Foto Dokumentasi Kegiatan

Video Dokumentasi Kegiatan

Author: administrator
Print PDF

Dengarkan

Freedom Audio

Kumpulan rekaman
audio dan diskusi Freedom Institute

BUKA PODCAST FREEDOM >>

Freedom Institute

Surat Berkala

Terima undangan dan berita terbaru Freedom Institute  

DAFTAR SURAT BERKALA >>

Baca

Buku Freedom

Temukan koleksi buku terbaru perpustakaan Freedom Institute

Cari disini >>

©2012 FREEDOM INSTITUTE. All rights reserved.

Google+