Laporan Peluncuran dan Diskusi Buku Sejarah Asia Tenggara: Dari Masa Prasejarah sampai Kontemporer
Nov 27

Laporan Peluncuran dan Diskusi Buku Sejarah Asia Tenggara: Dari Masa Prasejarah sampai Kontemporer

DB131126-19r_zpsd80489fb
Selasa, 26 November 2013, Freedom Institute bekerjasama dengan Komunitas Bambu menyelenggarakan peluncuran sekaligus diskusi buku “Sejarah Asia Tenggara: Dari Masa Prasejarah sampai Kontemporer” di Wisma Proklamasi no. 41.

Peluncuran dan diskusi buku ini dihadiri langsung oleh sang penulis, M. C. Ricklefs, yang sekaligus didaulat menjadi pembicara. Sementara itu untuk pembahasnya adalah David Reeve yang merupakan Asistant Profesor dari Department of Chinese and Indonesian, School of Modern Language Studies, University of New South Wales (UNSW), Australia. Moderator pada kesempatan kali ini adalah Luthfi Assyaukanie dari Freedom Institute.

Diskusi dihadiri sekitar 250 peserta. Ballroom Wisma Proklamasi yang menjadi tempat acara ini penuh sesak. Banyak dari peserta yang tidak kebagian tempat duduk karena terisi semua. Sampai-sampai Panitia harus mengeluarkan kursi dari Perpustakaan Freedom agar sebagian peserta yang tidak kebagian kursi bisa nyaman mendapatkan tempat duduk.

Acara ini dibuka dengan sambutan dari perwakilan Komunitas Bambu, J.J. Rizal, yang memberikan sambutan sebagai simbolisasi peluncuran buku. Sambutan tersebut dilanjutkan dengan penandatanganan standing banner oleh sang penulis, M. C. Ricklefs, dan pemberian buku untuk koleksi Perpustakaan Freedom Institute yang diwakili oleh Ulil Abshar Abdallah. Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi yang dipimpin oleh Luthfi Assyaukanie.

Tentang Buku

Secara keseluruhan buku ini membahas perihal sejarah negara-negara di Asia Tenggara yang memiliki kajian subjek yang begitu luas. Pada pengantar yang disampaikan oleh moderator, Luthfi mengatakan, “Ketebalan buku ini sifatnya relatif. Buku ini dapat menjadi tipis apabila kita melihat keragaman subjek dan dimensi yang dibahas di dalamnya”. Lebih jauh lagi, kelebihan dari buku ini adalah ketepatannya dalam memaparkan fakta dan penyampaian yang straight forward. “Buku ini sangat terang dan tidak bertele-tele. Tidak terlalu banyak berdiskusi di level teori, namun memaparkan fenomena-fenomena yang ada”, tambah Luthfi.

Setelah pengantar yang disampaikan oleh moderator, acara selanjutnya adalah presentasi dari M. C. Ricklefs. Ricklefs mengatakan bahwa buku ini tidak sekedar membahas kondisi Asia Tenggara dari 50 tahun yang lalu. Namun buku ini membahas periode yang lebih jauh daripada itu. Ricklefs mengutarakan bahwa buku ini terinspirasi dari karya-karya George Hall, yang meneliti tentang Asia Tenggara selama periode 1920-1970-an. “Saya sangat senang karena berhasil menyelesaikan mimpi dari seorang figur [Hall] yang saya kagumi”, kata Ricklefs.

Buku ini dimulai pada era prasejarah hingga saat ini. Secara general, menurut Ricklefs, salah satu ciri yang penting bagi perkembangan Asia Tenggara adalah keterbukaan bagi pihak-pihak internasional untuk melakukan hubungan dengan negara-negara di kawasan ini.

Pembahasan buku ini kemudian dilanjutkan dengan ulasan David Reeve. Reeve sangat detail mengulas buku sejarah ini dengan gayanya yang asyik. Berkali-kali peserta diskusi dibuat tertawa terpingkal-pingkal mendegar lelucon Reeve sehingga membuat suasana diskusi ini makin hangat.

“Buku ini dikarang oleh sebuah tim. Hal ini baik secara teknis karena ditulis oleh orang-orang yang bekerja di institusi akademik yang tersebar di Asia Tenggara”, ucap Reeve sambil berkelakar. Perbedaannya dengan karya-karya Hall, yang notabene menjadi inspirasi Ricklefs dalam menulis buku ini, adalah karena kontributor dalam penulisan buku ini memang memiliki kompetensi dan spesialisasi dibidangnya masing-masing. “Buku ini juga tidak strictly comparative seperti buku-buku lainnya tentang Asia Tenggara, namun buku ini menyediakan narasi yang faktual yang dibagi ke dalam beberapa segmen sesuai dengan periodisasi dan jumlah negara. Buku ini juga mengangkat isu-isu yang bersifat melangkahi segmentasi kedaerahan yang ada”, sebut Reeve.

Reeve lebih jauh lagi menambahkan, “Terdapat suatu persamaan dasar di kawasan Asia Tenggara, misalnya bahasa, yang menjadikan Asia Tenggara lebih unik dari kawasan lain. Konsep kepercayaan terhadap ide-ide agama juga menjadi dimensi yang paling penting yang dibahas dalam buku ini. Misalnya saja dalam bab 1, pada dasarnya Asia Tenggara pada masa lalu adalah dunia ‘mahluk halus’, karena tersebarnya paham animisme di level kawasan”.

Secara struktural, buku ini terdiri dari 826 halaman yang dibagi ke dalam 14 bab. Bab 1, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, menjelaskan perihal kelompok etnis, struktur sosial, dan budaya kuno. Bab ini menganalisa perihal interkonektivitas antara jejak-jejak masyarakat yang telah lama punah dengan kondisi penduduk masa kini, dengan meninjau aspek-aspek seperti sistem pertanian, hirarki sosial hingga agama primordial.

Selanjutnya, bab 2 membahas tentang pembentukan negara kuno. Bab ini adalah salah satu bagian yang menunjukan keunikan dari buku ini, karena Ricklefs mempresentasikan proses pembentukan negara kuno di kawasan Asia Tenggara  tidak melalui metode protosejarah, namun menceritakan kembali kisahnya berdasarkan bukti-bukti lokal.

Bab 3 membahas tentang negara-negara ‘klasik’ pada puncak kejayaannya. Bab ini merupakan kelanjutan dari bab-bab sebelumnya karena adanya kontinuitas yang tinggi antar periode. Masyarakat-masyarakat dengan pemerintahan yang secara kuantitatif kecil, bertransformasi menjadi suatu kerajaan yang lebih besar dan sustain.

Pada Bab 4, Ricklefs berbicara mengenai perkembangan Agama dan pemikiran global abad ke-13. Pada bab ini, Ricklefs mengalami kesulitan karena adanya karakteristik yang tidak linear antara modifikasi agama sesuai perkembangan zaman dengan nilai-nilai fundamental pada awalnya. Ricklefs menyatakan, “Melihat agama sesuai definisi para pembaharu dapat membawa kita melenceng jauh dari pemahaman tenang bagaimana agama-agama ini sebenarnya dipraktikan dalam masyarakat yang historis”.

Bab selanjutnya diberi judul “Negara-Negara Baru Abad ke-14”. Bab ini menggambarkan proses awal penyatuan imperium yang berhasil menggabungkan negara-negara yang terpisah, hingga tantangan-tantangan yang dihadapi kerajaan-kerajaan tersebut dalam menyatukan dan memelihara persatuan negaranya.

Bab 6 membahas perihal peranan aktor non-pribumi dalam perkembangan Asia Tenggara. Asia Tenggara sebagai jalur perlintasan membuat interaksi antara penduduk lokal dengan pendatang terus berkembang dan menjadi bagian integral dari interaksi sosial sehari-har. Isu inilah yang dielaborasi dalam bab ini.

Barulah pada Bab 7, Ricklefs sampai pada periode yang paling familiar dalam kajian studi Asia Tenggara. Bab ini membahas perihal negara modern di Asia Tenggara. Ricklefs menjelaskan bahwa dalam proses pembentukan negara-negara yang modern ini terlihat adanya praktik-praktik konsolidasi, faksionalisme, revolusi dan keterlibatan penting bangsa Eropa. Isu ini memiliki implikasi terhadap terlahirnya masyarakat kolonial yang menjadi isu utama dalam Bab berikutnya, dimana sistem masyarakat ini tercipta akibat percepatan modernisasi oleh bangsa Eropa dan Amerika Utara.

Pada Bab 9, Ricklefs menulis tentang ‘Reformasi, Ide-Ide Baru dan Depresi 1930-an’. Pada bab ini, Ricklefs menjelaskan perihal implikasi buruknya regulasi perbankan Amerika Serikat terhadap depresi besar di seluruh dunia, tidak terkecuali Asia Tenggara.

Pasca depresi besar tersebut, konstelasi politik dunia dihadapkan dengan Perang Dunia II. Di Bab 10, Ricklefs mencoba memberikan eksplanasi perihal Asia Tenggara di Masa Perang Dunia II, yang di mulai dari kontak awal dengan Jepang sebelum perang terjadi.

Setelah periode Perang Dunia II berakhir, terdapat perubahan wajah politik internasional menciptakan transformasi kompleks yang disebut dekolonisasi. Hal ini dijelaskan pada Bab 11 yang berjudul ‘Merebut Kembali Kemerdekaan Pasca-1945’.

Proses nation-building pun terus berlanjut pasca perebutan kemerdekaan tersebut. “Berakhirnya imperium kolonial mengantarkan seruan kemerdekaan ke Asia Tenggara”, sebut Ricklefs. Proses ini sendiri berlangsung hingga 1990-an. Isu ini dielaborasi pada Bab 12, “Membangun Bangsa”.

Bab 13, menjelaskan isu yang lebih kontemporer, yakni perihal “Pasang Surut Ekonomi Asia Tenggara (1990-2008)”. Menurut Ricklefs, hampir sepanjang dekade 1990-an sebagian besar negara Asia Tenggara mencapai kemakmuran yang lebih tinggi dari sebelumnya. Namun, krisis moneter pada akhir 1990-an membuat Asia Tenggara fokus membenahi diri dengan pendekatan yang berbeda dan hasil yang variatif pula.

Kemudian, Bab terakhir buku ini berjudul “Asia Tenggara Masa Kini”. Varian isu mulai dari isu demokrasi, korupsi, otoritarianisme dan militer, hingga agama dalam kehidupan masyarakat dibahas dalam bab terakhir ini.

Hubungan Australia-Indonesia

Dalam forum diskusi ini, Ricklefs juga memaparkan peranan Australia dalam perkembangan Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Peristiwa yang sedang hangat saat ini setelah terungkapnya kasus penyadapan tokoh-tokoh penting Indonesia oleh Australia.  “Dahulu peranan Australia tidak se-mesra sekarang”, paparnya. Hal tersebut dikarenakan latar belakang sosial, politik, ekonomi, dan kultur yang berbeda dari mayoritas negara-negara di Asia Tenggara. Satu-satunya hal yang membuat interaksi antara Australia dengan kawasan Asia Tenggara cukup intens adalah karena kondisi geografis. Namun Ricklefs juga menyatakan bahwa hal tersebut berubah seiring berjalannya waktu.

Untuk kondisi bilateral Australia-Indonesia yang sedang merenggang akhir-akhir ini, Ricklefs mengatakan, “Sebenarnya mudah saja, [Tony] Abbott tinggal meminta maaf dan menjelaskan bahwa insiden penyadapan tersebut terjadi pada rezim sebelumnya, maka permasalahan sudah selesai”. (*Aldo Kaligis)

Dokumentasi:

Foto
Author: Wahyu
Print PDF

Dengarkan

Freedom Audio

Kumpulan rekaman
audio dan diskusi Freedom Institute

BUKA PODCAST FREEDOM >>

Freedom Institute

Surat Berkala

Terima undangan dan berita terbaru Freedom Institute  

DAFTAR SURAT BERKALA >>

Baca

Buku Freedom

Temukan koleksi buku terbaru perpustakaan Freedom Institute

Cari disini >>

©2012 FREEDOM INSTITUTE. All rights reserved.

Google+