Achmad Bakrie Award
Achmad Bakrie Award
Aug 21

ACHMAD BAKRIE 2015

pabxiii-perak

PABXIII-all

SIARAN PERS

PENGHARGAAN ACHMAD BAKRIE XIII / 2015

Ditayangkan Spesial di tvOne

Liputan di ANTV dan Viva.co.id

XXI Ballroom

Gedung Djakarta Theater Lt.2

Jl. M.H. Thamrin No 9 Jakarta

Jumat, 21 Agustus 2015

19.00 WIB

Jakarta, 18 Agustus 2015

Memperingati HUT 70 Kemerdekaan RI, Keluarga Bakrie kembali mempersembahkan PENGHARGAAN ACHMAD BAKRIE XIII/2015, tahun ini mengambil tema “Patriotisme, Bangga Menjadi Indonesia”.

Ajang tahunan ke 13 (sejak 2003) ini diselenggarakan oleh Yayasan Achmad Bakrie bekerja sama dengan Freedom Institute dan VIVA Group. Acara penyerahan (awarding night) akan digelar pada hari Jumat (21/8), mulai jam 19:00 bertempat di XXI Ballroom Djakarta Theater, dan akan ditayangkan oleh tvOne pada jam yang sama tanggal 27 Agustus 2015.

Penghargaan Achmad Bakrie (PAB) diberikan kepada para tokoh, putra terbaik bangsa yang dinilai telah memberikan sumbangan besar dan berharga bagi pembangunan nasional, melalui keperintisan dan kepeloporannya dalam bidang pemikiran, kreasi, inovasi serta pencapaian dalam karya ilmu pengetahuan dan teknologi.

Penghargaan Achmad Bakrie merupakan pengejawantahan dari Falsafah Bakrie Untuk Negeri serta Nila Dasar atau Core Values Trimatra Bakrie, yang terdiri atas Keindonesian, Kemanfaataan dan Kebersamaan, yang merupakan tekstualisasi dari filosofi dan nilai-nilai yang dianut serta dijalankan oleh Mendiang H. Achmad Bakrie (1916-1988), yang hingga kini tetap dijaga serta dijalankan oleh generasi penerusnya dalam Kelompok Usaha Bakrie.

Rasa syukur atas nikmatnya kemerdekaan, dan perhatian Achmad Bakrie terhadap ilmu pengetahuan, yang kerap diungkapkan Almarhum dalam berbagai kesempatan, lalu kemudian diwujudkannya dengan mendorong banyak orang untuk belajar dan belajar, telah menginspirasi Keluarga Bakrie untuk memberikan PAB ini.

"Penghargaan Achmad Bakrie diperuntukkan untuk memacu putra-putri Indonesia agar terus berupaya melahirkan ide-ide cemerlang dan karya karya gemilang demi kemajuan Indonesia,", kata Anindra Ardiansyah Bakrie, Ketua Umum OC PAB XIII.

"Hingga kini sudah 51 tokoh yang diberi Penghargaan Achmad Bakrie, Insya Allah kami akan terus menggelarnya setiap tahun," tambah Ardi, sapaan akrabnya, yang tidak lain adalah Cucu Achmad Bakrie, Pendiri Bakrie Group.


Menutup keterangan persnya, Ardi menegaskan bahwa meski PAB ini diberikan oleh Keluarga Bakrie melalui Yayasan Achmad Bakrie, namun pemilihan dan penetapan para Penerima PAB dilakukan oleh suatu Dewan Juri yang bekerja secara independen. Mereka berasal dari institusi perguruan tinggi, lembaga-lembaga penelitian dan pengkajian, asosiasi dan komunitas profesi, kalangan jurnalis, serta lembaga non pemerintah lainnya.

“Nama-nama Dewan Juri memang dirahasiakan. Sejak awal dilaksanakan, PAB merujuk pada pola-pola Penghargaan Nobel”, ujar Rizal Mallarangeng, Penasehat Komite Penjurian, menambahkan keterangan Ardi.

ENAM PUTRA TERBAIK PENERIMA PAB XIII / 2015

  1. Azyumardi Azra (Pemikiran Sosial)
  2. Ahmad Tohari
  3. Kaharuddin Djenod
  4. Suryadi Ismadji
  5. Tigor Silaban (Kedokteran/Kesehatan)
  6. Suharyo Sumowidagdo (Ilmuwan Muda Berprestasi)

Azyumardi Azramenyumbang secara istimewa khazanah pengetahuan Keislaman khususnya tentang Dunia Islam sebagai jaringan ide yang mengalir dari satu kawasan ke kawasan lain dengan dinamis dan saling mengilhami.

Ahmad Tohari memperkokoh Tradisi Sastra Realisme di Indonesia
dan piawai mengolah kampung halaman, serta peka terhadap masalah Sosio-Kultural Masyarakat Perdesaan
.

Kaharuddin Djenod menopang pengembangan Industri Maritim Indonesia melalui Inovasi Teknologi khususnya pengembangan Sistem dan Metode Mutakhir Desain Kapal Laut yang terbukti mampu bersaing di Dunia Internasional.

Suryadi Ismadji memperkaya khazanah pengetahuan Biokimia melalui sederet riset berbasis keanekaragaman hayati lokal, yang disertai publikasi ilmiah mengesankan meski harus bekerja dalam lingkungan yang belum optimal.

Tigor Silaban merajut persatuan Indonesia melalui pengabdian jiwa raga tanpa henti dan tanpa pamrih dalam membangun dan memperkaya kesehatan yang menjunjung martabat warga tertinggal di Papua.

Suharyo Sumowidagdo berperan aktif dalam kerjasama eksperimen global yang menandaskan keberadaan Partikel Boson-Higgs di CERN, yang diramalkan oleh model standar Fisika partikel dan bersedia kembali ke Indonesia sebagai pionir untuk memulai dan memimpin grup eksperimen global pertama di tanah air.

KONSEP “AWARDING NIGHT”

Konsep acara pemberian Penghargaan Achmad Bakrie XIII/2015 dikemas dengan tema Patriotisme, Bangga Menjadi Indonesia.

“Saya minta acaranya dikemas dengan konsep menghibur, di tengah suasana eksklusif berbalut merah putih merayakan HUT Kemerdekaan RI. Namun harus tetap hikmat sebagai ajang gelaran apresiatif terhadap para tokoh ilmu pengetahuan,” pesan Ardi kepada tim gabungan dari tvOne dan ANTV.

Gelaran PAB XIII/2015ini diyakini akan menghibur, karena menghadirkan acara yang berkelas, serta kaya akan informasi yang mendidik sekaligus menghibur dengan penampilan menarik, seperti, Endah Laras, Magenta Eleven, Laserman Indonesia, The Resonanz Children Choir. Special Performance dari artis papan atas Indonesia Ruth Sahanaya dan Sandy Sandoro, serta dipandu oleh presentertvOne Indiarto Priadi & Putri Viola.

Masyarakat dapat juga mengikuti kegiatan ini melalui media online atau streaming di website tvonenews.tv dan viva.co.id. Selain itu, ANTV juga akan memberikan sajian liputan eksklusif seputar PAB XIII/2015 ini.

Keseluruhan acara ini diharapkan bisa membangun rasa bangga kepada bangsa atas karya yang dipersembahkan keenam tokoh di atas, mereka semua merupakan orang-orang yang telah berdedikasi besar dengan menghadirkan karya-karya terbaik bagi masyarakat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, sehingga bisa menjadi contoh bagi putra-putri Indonesia lainnya dalam berkreatif, berinovasi dan berkarya untuk Indonesia, inilah wujud penghargaan terhadap karya–karya terbaik anak bangsa, khususnya kepada tokoh penerima Penghargaan Achmad Bakrie beserta karya luar biasanya yang telah disumbangkan bagi negeri kita tercinta, Indonesia.

SAKSIKAN

Penghargaan Achmad Bakrie 2015 Untuk Negeri di tvOne

tvOneMemang Beda.

Untuk informasi dapat menghubungi

Raldy Doy – tvOne PR Manager ; This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

pabxiii-didukung-oleh

 

Author: yubud
Print PDF
Nov 20

Penghargaan Achmad Bakrie 2013

pabxi

Disiarkan Langsung di tvOne

Liputan di ANTV  & viva.co.id

Jakarta, 25 Agustus 2013

Komitmen terhadap pembangunan bangsa dan negara Indonesia, itulah prinsip dan keteladanan pendiri Kelompok Bakrie, almarhum H. Achmad Bakrie. Semasa hidupnya, beliau juga senantiasa mengingatkan pada hal tersebut, yakni agar selalu peduli pada pembangunan bangsa dan berorientasi pada kemanfaatan bagi orang lain.

Suatu bentuk dedikasi bagi para insan terbaik bangsa, kini kembali hadir dalam balutan kegiatan Penghargaan Achmad Bakrie 2013 Untuk Negeri Tahun 2013 ini adalah tahun yang ke-11 Freedom Institute memberikan  Penghargaan Achmad Bakrie (PAB). Selama kurun sebelas tahun ini, Penghargaan Achmad Bakrie telah diberikan ke pada 48 penerima yang terdiri dari 46 individu dan 2 lembaga

Penghargaan Achmad Bakrie 2013 Untuk Negeri merupakan tradisi penganugrahan yang dipersembahkan Freedom Institute sebagai wujud apresiasi kepada tokoh-tokoh inspirasional yang telah berjasa dalam kehidupan intelektual bagi bangsa Indonesia. Beberapa tokoh yang dipilih untuk menerima penghargaan ini ialah insan-insan terbaik dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan, serta mereka yang telah membaktikan hidupnya di bidang kemanusiaan. Selain itu, Penghargaan Achmad Bakrie  juga memberikan penghargaan kepada anak bangsa yang telah menuangkan pikirannya dalam menghasilkan sebuah karya inspiratif yang manfaatnya mampu dirasakan masyarakat.

Pemberian penghargaan tahunan yang terselenggara sejak tahun 2003 ini, akan disiarkan tvOne dari XXI Ballroom, Djakarta Theater pada Sabtu 31 Agustus 2013 pukul 20.00 WIB, dalam acara ini akan memberikan kepada lima tokoh penerima Penghargaan Achmad Bakrie 2013 Untuk Negeri, yakni :

1.            Remy Sylado (Kesusastraan)

Remy Sylado adalah pencetus dan pemimpin gerakan Puisi Mbeling. Puisi Mbeling, yang terjadi sepanjang 1972-1975, adalah sebuah selaan, gangguan, terhadap sejarah sastra Indonesia. Gerakan yang “berpusat” di majalah musik dan budaya pop Aktuil (Bandung) ini ibarat gelombang bawah-tanah bagi institusi sastra Indonesia yang “agung” bertengger di atas tanah dan berkembang biak melalui jaringan sekolah, media massa dan institusi seni.

2.            Emil Salim (Pemikiran Sosial)

Jika ada tokoh yang layak disebut sebagai Bapak Lingkungan Hidup Indonesia, maka dia tentu adalah Emil Salim. Ia tampil menyerukan ? dan bekerja mewujudkan ? pentingnya dimensi lingkungan dalam pembangunan ketika masyarakat luas termasuk para pembuat kebijakan boleh dikata masih mengidap rabun bahkan buta lingkungan.

Catatan: Emil Salim menyatakan tak menolak Penghargaan Achmad Bakrie 2013, tapi meminta agar menerima penghargaan ini tahun depan setelah demisioner dari jabatan sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden yang masih diemban saat ini.

3.            Irawan Yusuf (Kedokteran)

Di ranah riset, sumbangan Irawan Yusuf menonjol terutama dalam mendalami  polimorfisme genetik suku-suku bangsa di Indonesia dan Asia Tenggara dalam kaitannya dengan metabolisme obat. Sambil terus melaksanakan riset  farmakogenomik,  Irawan Yusuf membangun sistem pendidikan kedokteran dan institusi riset biomedik yang dapat diandalkan dan berpengaruh positif bukan hanya di Indonesia Timur.

4.            Muhilal (Sains)

Selama karirnya sebagai ilmuwan, fokus penelitian Muhilal berkisar seputar gizi, khususnya zat gizi mikro, lebih khusus lagi tentang vitamin A, Iodium dan zat gizi besi (Fe). Kajian Muhilal tentang vitamin A memperkuat temuan-temuan sebelumnya. Misalnya, bahwa vitamin A tidak hanya mencegah anak dari rabun atau potensi kebutaan, tapi juga dapat meningkatkan respon imun pada anak-anak. Karena itulah, vitamin A disebut juga vitamin anti-infeksi.

5.            Oki Gunawan (Ilmuwan Muda Berprestasi)

Kontribusi kegiatan riset Oki Gunawan mencakup rintisan bidang baru dalam elektronika yang disebut “valleytronika” dan pengembangan teknologi sel surya baru yang disebut “CZTS”,  khususnya dalam aspek teknologi karakterisasi.  Kedua topik ini menjadi bagian dari topik riset terdepan, ranah frontier,  dalam riset semikondutor dunia sekarang ini. Oki juga aktif dalam dunia pendidikan sains Indonesia khususnya dalam perintisan dan pengembangan Tim Olimpiade Fisika Indonesia.

Keseluruhan acara ini diharapkan bisa sebagai kontribusi kepada bangsa dan kelima tokoh di atas, yakni orang-orang yang telah berdedikasi besar bagi masyarakat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, Penghargaan Achmad Bakrie sekaligus ingin memperkenalkan para tokoh hebat ini kepada khalayak luas.

Lewat ajang Penghargaan Achmad Bakrie 2013 Untuk Negeri, PT. Visi Media Asia (VIVA) yakni perusahaan media grup Bakrie yang terdiri dari tvOne, ANTV  dan viva.co.id. akan mengemas profil penerima Penghargaan Achmad Bakrie  ini secara eksklusif. Selain itu bentuk penghargaan yang diberikan  berupa trofi, piagam, dan uang sebesar Rp 250.000.000.

Para pemirsa setia tvOne, juga tetap dapat melihat via online atau streaming melalui website tvonenews.tv dan viva.co.id. Selain itu, ANTV  juga akan memberikan sajian liputan eksklusif seputar event Penghargaan Achmad Bakrie  ini.

Konsep acara Penghargaan Achmad Bakrie 2013 Untuk Negeri akan dikemas dengan nuansa entertaining di tengah konsep suasana yang ekslusif. Dengan kata lain, ajang Penghargaan Achmad Bakrie ini tidak hanya menghibur, tetapi dapat menghadirkan acara yang berkelas serta kaya akan informasi yang mendidik. Dimeriahkan oleh artis-artis, seperti Sundari Sukoco, Baim, Tohpati, Paduan Suara Unpad, serta dipandu oleh Sophie Novita dan Mayong Suryolaksono.

Inilah wujud penghargaan terhadap karya–karya terbaik anak bangsa, khususnya kepada tokoh penerima penghargaan Penghargaan Achmad Bakrie beserta karya luar biasanya yang telah disumbangkan bagi negeri kita tercinta, Indonesia. Di sisi lain, Penghargaan Achmad Bakrie 2013 Untuk Negeri ini diharapkan mampu memberi inspirasi generasi muda selanjutnya.

Acara Penghargaan Achmad Bakrie didukung sepenuhnya oleh Viva Grup (ANTV , TvOne dan viva.co.id)  dan Keluarga besar Bakrie untuk Negeri serta disponsori oleh Bakrie & Brothers,Tbk; Bakrie Sumatera Plantation, Tbk; Bakrieland Development,Tbk; Bakrie Global Ventura; Bakrie Capital Indonesia; Bakrie Kalila Investment; Bumi Resources,Tbk; Bumi Resources Mineral,Tbk; Energi Mega Persada,Tbk & Berau Coal, Tbk.

“SAKSIKAN Penghargaan Achmad Bakrie 2013 Untuk Negeri di tvOne.”

tvOne…“ Memang Beda”.

Untuk informasi dapat menghubungi

Raldy Doy – tvOne PR Manager ; This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

Nirwan Arsuka – Direktur Program Freedom Institute ; This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

 

Buku program Penghargaan Achmad Bakrie 2013 Bakrie Untuk Negeri

Teks Pidato Pendiri Freedom Institute: Indonesia, My Dream

Author: Wahyu
Print PDF
Aug 07

Penghargaan Achmad Bakrie 2012

Siaran Pers

Penghargaan Achmad Bakrie 2012

Selasa, 7 Agustus 2012
Tahun 2012 adalah tahun ke-10 Freedom Institute memberikan Penghargaan Achmad Bakrie (PAB), bertepatan pula dengan ulang tahun ke-70 Kelompok Usaha Bakrie (KUB) yang sejak awal mendukung penuh pemberian penghargaan ini.
PAB yang selalu diserahkan di sekitar Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus ini, mengutip Ignas Kleden (penerima pertama PAB untuk pemikiran sosial), “merupakan pengakuan bahwa pemikiran layak menjadi suatu bentuk kegiatan manusia, dan pantas menjadi pilihan keaktifan dan keterlibatan seorang Indonesia. Penghargaan ini merupakan tonggak baru dalam kebiasaan kebudayaan kita, dan tahapan penting dalam perkembangan persepsi masyarakat kita.”
Meneruskan tradisi penghargaan dan perayaan atas sumbangan pemikiran putra-putri terbaik Indonesia, Freedom Institute memberikan Penghargaan Achmad Bakrie tahun ini kepada:

1. Tjia May On, untuk Sains
(Lahir di Probolinggo, 25 Desember 1934)
Tjia May On adalah bagian dari generasi pertama Indonesia yang mendalami fisika partikel elementer, yang telah mengubah pandangan dunia tentang interaksi antarmateri alam semesta dan asal-usulnya. Ia sempat ikut riset di The International Center for Theoretical Physics (ICTP), Trieste, Italia, yang didirikan fisikawan peraih Nobel, Abdus Salam. Renungan Tjia atas kondisi obyektif Indonesia saat itu, membuatnya meninggalkan fisika partikel elementer yang memang bergengsi dan menuntut modal besar namun masih cukup jauh manfaat praktisnya. Ia lalu menekuni riset di ranah material fungsional dan berbagai aspeknya sekaligus, yang melambungkan namanya di kancah antarbangsa. Prestasi intelektualnya ia manfaatkan untuk membangun generasi peneliti yang sangat diperhitungkan di Indonesia.

2. Wiratman Wangsadinata, untuk Teknologi
(Lahir di Jakarta, 25 Februari 1935)
Gubernur legendaris Ali Sadikin menyebut Wiratman Wangsadinata sebagai “motor penggerak pembangunan Jakarta”. Kontribusi besar Wiratman tentu saja tak terbatas hanya di ibukota. Di samping yang tegak menjulang, ia juga menggarap struktur yang melata di permukaan dan yang terhujam ke bumi dan dasar laut, tersebar di berbagai penjuru negeri. Rekayasa yang dikembangkan, dengan inovasi rumus dan struktur, juga inovasi perencanaan dan pelaksanaan, mampu menjawab sejumlah problem yang bukan hanya milik Indonesia. Jasanya tak terhapuskan di ranah rekayasa beton, gempa, gedung tinggi, dan jembatan. Terobosannya yang jitu melampaui wilayah kerekayasaan, mendorong nilai tambah di berbagai sisi.

3. M. Dawam Rahardjo, untuk Pemikiran Sosial
(Lahir di Solo, 20 April 1942)
M. Dawam Rahardjo adalah cendekiawan yang memiliki perhatian sangat luas terhadap ilmu-ilmu sosial. Meski latar belakangnya ilmu ekonomi, ia juga menulis tentang filsafat, agama, politik, dan sastra. Sikap yang tegas terhadap isu-isu kebebasan adalah karakter pemikiran Dawam. Tanpa henti ia membela hak-hak minoritas, mengecam kelompok-kelompok agama yang menggunakan kekerasan, sambil mengkritik pemerintah yang kurang sigap melindungi kaum yang tersudut. Dawam juga menyerukan pentingnya kebebasan berpikir sebagai sarana mencapai kemajuan suatu bangsa. Baginya, kreativitas dan inovasi manusia tak akan terwujud tanpa adanya kebebasan berpikir.

4. Sultana MH Faradz, untuk Kedokteran
(Lahir di Purbalingga, 2 Februari 1952)
Sultana MH Faradz menonjol sebagai salah seorang pakar Indonesia yang mendalami dan mengembangkan genetika untuk menghadapi sejumlah problem besar yang mempengaruhi mutu kesehatan, pendidikan, dan layanan masyarakat sebuah bangsa. Sumbangan ilmiahnya yang paling menonjol adalah pemahaman aspek seluler dan molekuler dari kelambanan intelektual dan kerancuan kelamin, beserta pewarisan genetis dan penanganannya. Sumbangannya tak terbatas pada kajian laboratorium tapi meluas sampai ke pembangunan institusi. Lewat kerjasama internasional yang dibangunnya, Sultana memprakarsai berdirinya program Magister of Genetic Counseling yang pertama di Asia Tenggara. Program ini telah menghasilkan para konselor genetik dari beberapa daerah di Indonesia.

5. Seno Gumira Ajidarma, untuk Kesusastraan
(Lahir di Boston, AS, 19 Juni 1958)
Seno Gumira Ajidarma menggunakan logika dongeng untuk menyatakan aneka masalah Indonesia mutakhir. Merapikan pengaruh avantgardisme, ia mencapai kelancaran bercerita dengan bahasa yang tertib dan transparan. Berbagai cerita pendeknya berwarna politik justru dengan membubuhkan efek pengasingan kepada peristiwa yang sudah dikenali pembaca. Selama tiga dekade, ia membuktikan bahwa sastra jadi bernilai sastra dengan mengaduk kutipan dan bentuk dari berbagai subkultur, termasuk budaya massa. Sambil bersikap main-main, sastra Seno Gumira Ajidarma bekerja secara persuasif mempersoalkan cara kita menggambarkan realitas.

6. Yogi Ahmad Erlangga, untuk Ilmuwan Muda Berprestasi
(Lahir di Tasikmalaya, 8 Oktober 1974)
“Persamaan Helmholtz” adalah persamaan krusial yang dulunya sulit diatasi oleh komputer. Perusahaan-perusahaan minyak harus menghitung rumus Helmholtz bahkan hingga ribuan kali, hanya untuk survei di satu daerah. Yogi membuka jalan untuk mengubah persamaan Helmholtz ini menjadi persamaan linear aljabar biasa, yang lalu bisa dipecahkan dengan metode iterasi. Ini memungkinkan komputer menyelesaikan Persamaan Helmholtz itu lebih efisien. Metode Yogi itu juga dipakai untuk teknologi Blu-Ray, yang membuat keping itu bisa memuat data komputer dalam jumlah yang jauh lebih besar. Metode Yogi dapat diterapkan dalam sejumlah bidang, termasuk juga dalam mempermudah kerja radar di dunia penerbangan.

Untuk prestasi, ketekunan, dan sumbangan mereka yang luar biasa di bidang masing-masing, Freedom Institute dengan hormat memberi para tokoh dan ilmuwan tersebut Penghargaan Achmad Bakrie 2012.

Penghargaan berupa trofi, piagam, dan uang sebesar Rp 250.000.000 bagi masing-masing penerima akan diserahkan pada acara Malam Penghargaan Achmad Bakrie, Minggu, 12 Agustus 2012, di XXI Ballroom Djakarta Theatre, Jakarta, pukul 18.00-22.00.

Adapun tentang penolakan atau pengembalian Penghargaan Achmad Bakrie, Freedom Institute perlu menegaskan kembali bahwa:

1. Penghargaan Achmad Bakrie diberikan karena mutu karya dan dedikasi seseorang yang istimewa di bidangnya.

2. Penolakan atau pengembalian Penghargaan Achmad Bakrie tidak menurunkan penilaian juri atas mutu karya dan dedikasi individu yang telah terpilih.

3. Karena penilaian atas mutu karya dan dedikasi tidak berubah, maka tak ada alasan bagi Freedom Institute untuk membatalkan atau mengalihkan pemberian Penghargaan Achmad Bakrie yang sudah diputuskan.

4. Dalam surat balasannya ke Freedom Institute pada tanggal 18 Juni 2012, Sdr Seno Gumira Ajidarma menyampaikan agar Penghargaan Achmad Bakrie 2012 untuk Kesusastraan yang jatuh pada dirinya “sebaiknya diberikan kepada orang lain yang dianggap layak,” karena Sdr Seno Gumira Ajidarma tidak dapat menerimanya. Tentu saja ada sastrawan yang layak menerima Penghargaan Achmad Bakrie, tapi tidak untuk tahun 2012 ini.

5. Dari semua sastrawan yang masih hidup dan menulis dalam Bahasa Indonesia, dewan juri Penghargaan Achmad Bakrie menganggap bahwa untuk tahun 2012 ini, sastrawan yang karya dan dedikasinya paling layak mendapat penghargaan adalah Seno Gumira Ajidarma.

6. Bagi Freedom Institute, tahun 2012 ini, untuk bidang kesusastraan, adalah tahun Seno Gumira Ajidarma. Begitu juga, untuk sains, tahun 2012 ini adalah tahun Tjia May On; untuk teknologi, tahun Wiratman Wangsadinata; untuk Pemikiran sosial, tahun M Dawam Rahardjo; untuk kedokteran, tahun Sultana MH Faradz; dan untuk ilmuwan muda berprestasi, tahun Yogi Ahmad Erlangga.


Dirgahayu Indonesia.

Terima kasih.


Jakarta, 7 Agustus 2012




Rizal Mallarangeng
Direktur Eksekutif Freedom Institute


Kontak untuk keterangan tambahan lain-lain tentang penjurian
Nirwan A. Arsuka (Juru Bicara Dewan Juri) 08159254275


Buku program Penghargaan Achmad Bakrie 2012

Surat balasan Seno Gumira Ajidarma


Foto-foto penerima Penghargaan Achmad Bakrie 2012
Author: administrator
Print PDF
Feb 15

Penghargaan Achmad Bakrie 2003

Freedom Institute juga mengusahakan lingkungan yang menyebarkan keperintisan di bidang pemikiran sosial dan kesusastraan. Usaha ini merupakan bagian dari tujuan Freedom Institute yang lebih luas, yaitu memajukan kehidupan intelektual di Indonesia. Salah satu visi dasar lembaga ini adalah bahwa kehidupan pemikiran yang bebas, sarat dengan perdebatan yang produktif, penuh antusiasme, dan dilandasi oleh integritas intelektual yang tinggi merupakan unsur penyubur kehidupan demokrasi. Dengan kata lain, kehidupan pemikiran yang subur dan bebas adalah modal sosial bagi demokrasi di Indonesia.

Tradisi penghargaan atas karya pemikiran dan penciptaan artistik sudah menjadi praktik lazim dalam dunia intelektual. Penghargaan berskala internasional seperti Hadiah Nobel selalu menjadi impian para perintis pemikiran dan penciptaan di seluruh dunia. Tradisi serupa juga dikenal di Indonesia, meski belum mengakar dan mencapai reputasi yang kokoh. Kita mengenal, antara lain, penghargaan tahunan oleh Yayasan Buku Utama untuk buku-buku terbaik dalam berbagai bidang. Sejumlah lembaga atau pribadi di beberapa daerah juga merintis pemberian penghargaan yang serupa, khususnya di bidang kesenian dan kesusastraan.

Freedom Institute meneruskan tradisi pemberian penghargaan di bidang kreativitas akal budi ini dengan Penghargaan Achmad Bakrie sejak 2003, pada setiap menjelang Hari Kemerdekaan. Pada mulanya ada dua kategori penghargaan, yakni kategori pemikiran sosial dan kategori kesusastraan. Pada 2005, Freedom Institute menambah penghargaan untuk kedokteran, dan pada 2007, kategori itu ditambah lagi, yakni dalam bidang sains dan teknologi. Para pemenang penghargaan ini adalah mereka yang telah menghasilkan prestasi puncak sekaligus memperbaharui bidang masing- masing. Jumlah hadiah yang diberikan sebesar Rp. 100.000.000.

Nama "Achmad Bakrie" diabadikan untuk mengenang jasa Achmad Bakrie, ayah dari Aburizal Bakrie, pendiri dan donatur utama Freedom Institute. Achmad Bakrie dilahirkan di Lampung pada 1 Juni 1916. Ia adalah seorang pengusaha sukses yang dikenal gigih dan mencintai ilmu pengetahuan. Bakrie memulai usahanya sebagai seorang pedagang karet dan rempah- Penghargaan rempah di Lampung. Setelah merasa semakin sukses, pada 10 Februari 1942, dia mendirikan Bakrie & Brothers, sebuah perusahaan yang kelak menjadi induk bagi bisnis Bakrie. Setelah Achmad Bakrie wafat pada 15 Februari 1988, Bakrie & Brothers diteruskan oleh Aburizal Bakrie, putra tertuanya.

Selain Penghargaan Achmad Bakrie, Freedom juga memberikan Penghargaan Ahmad Wahib. Penghargaan berbentuk uang senilai Rp. 30.000.000 ini diberikan kepada para mahasiswa yang berhasil memenangkan lomba menulis yang diselenggarakan oleh panitia yang telah ditunjuk Freedom Institute. Penghargaan ini untuk mengenang Ahmad Wahib, seorang intelektual Muslim yang meninggal pada usia muda. Wahib dikenal karena catatan harian-nya yang banyak memberikan inspirasi kaum muda dalam berpikir dan bersikap merdeka. Freedom Institute berharap dengan menyelenggarakan perlombaan menulis dan pemberian hadiah kepada pemenangnya, akan tumbuh keberanian untuk berpikir bebas di kalangan generasi muda Indonesia.

Author: administrator
Print PDF
Nov 05

Penghargaan Achmad Bakrie 2003

Untuk lebih mendorong terciptanya lingkungan yang kondusif bagi kepeloporan di bidang pemikiran sosial-budaya dan kesusastraan, Freedom Institute memberikan penghargaan tahunan yang diberi nama Penghargaan Ahmad Bakrie. Usaha ini merupakan bagian dari tujuan Freedom Institute yang lebih besar, yakni memajukan kehidupan pemikiran di Indonesia. Untuk tahun pertama (2003) Penghargaan Ahmad Bakrie diberikan kepada Sapardi Djoko Damono (bidang kesusastraan) dan kepada Ignas Kleden (bidang sosial-budaya). Acara pemberian penghargaan diberikan tiap bulan Agustus.

Untuk bidang kesusastraan, penghargaan tahun ini (2003) diberikan kepada Sapardi Djoko Damono karena penyair yang juga cerpenis ini dipandang telah melakukan pengabdian untuk bidang ini selama lebih dari empatpuluh tahun. Dan bukan hanya itu, pengarang kumpulan puisi Duka-Mu Abadi (1969) ini juga dianggap telah mengkristalkan dan memperbarui tradisi puisi lirik di Indonesia. Puisinya adalah sebuah puncak pencapaian bahasa Indonesia. Di bidang sosial-budaya, penghargaan diberikan kepada Ignas Kleden karena pengarang buku Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan (1988) ini dianggap telah memberikan sumbangan penting dalam bidang kritik epistemologis terhadap ilmu sosial. Pemikir sosial-budaya yang juga seorang kritikus sastra ini telah menulis berbagai esai sejak dekade 70-an. Alasan lainnya adalah bahwa penulis dengan latar belakang filsafat ini sejak tahun 70-an dianggap telah melakukan kritik penting terhadap kebudayaan dengan memakai perspektif ilmu sosial.

SAPARDI DJOKO DAMONO
telah menulis puisi tanpa putus sejak tak kurang dari empat dekade lalu sampai hari ini. Tapi ia bukan hanya setia kepada per¬puisian sebuah bidang yang di negeri ini nyaris tak. dihidupi oleh apapun juga. selain gairah penyaimya sendiri. la juga mengkristalkan dan memperbarui traddisi puisi lirik Indonesia. Seperti haInya Chairil Anwar, sajak sajak Sapardi bukan hanya menarik generasi yang Iebih muda untuk menulis puisi, tapi menyebarkan semacam. gaya dominan dalarn khazanah sastra kita. Puisi Sapardi adalah sebuah puncak pencapaian bahasa Indonesia.

Serangkaian kumpulan puisi Sapardi mencerminkan bagaimana seorang pencipta menyegarkan bahasa seraya menemukan gaya pribadinya sendiri. Kumpulan puisinya yang pertama, Duka Mu Abadi (1969) adalah upaya melanjutkan warisan Amir Harnzah dan Chairil Anwar, dua pengawal puisi modem Indonesia. Setelah bahasa dan sastra sekadar menjadi bagian dari lautan slogan dan jargon pada paruh pertarna 1960 an, Sapardi merebut kembali kata sebagai milik paling asasi dalarn penciptaan dan kebebasan. Duka Mu Abadi adalah titik kelahiran kembali puisi lirik Indonesia. Di sana, khususnya dengan bentuk kuatrin dan sonet, si pehyair mendedahkan kembali pengalaman kongkret manusia, sang aku, yang berhadapan dengan alam., Tuhan, cinta, kehidupan, dan maut pengalaman yang pada masa sebelumnya diringkus oleh rumus rumus yang 'besar" dan abstrak. Bentuk sajaknya yang amat berdisiplin clan berima itu justru dibangunnya dengan frasa frasa yang se¬ringkah menggantung, tak selesai: paradoks indah yang membawakan kesunyian, keterpecahan dan ambiguitas.

Kita bersua dengan momen momen pencerahan kecil, epifani, dalam. kumpulan puisi Mata Pisau (1974). Dengan citraan visual yang penuh tenaga, sipenyair menciptakan kembali alam semesta sebagai mikrokosmos yang lain, semacam keheningan afternatif terhadap dunia yang sudah ditaklukkan ilmu dan mesin. Sajak sajak yang ringkas itu menunjukkan bahwa penyair kelahiran Surakarta, 1940, ini bisa membuat lukisan yang sempuma dengan sesedikit mungkin kata. la. melakukan subversi terhadap kemubaziran yang selama ini menjadi ciri umurn dalam (pemakaian) bahasa Indonesia.

Sapardi kemudian menulis puisi yang sepintas lalu berbentuk prosa sebagaimana terlihat dalam bagian akhir Mata Pisau, dan lalu pada Akuafium (1974) dan Perahu Kertas (1983). Eksperimen yang penuh risiko ini berhasil menciptakan tamsil tamsil modem yang menggoda pembaca dengan ambiguitas maupun intelektualisme, kesederhanaan maupun kejamak tafsiran. Dengan membuat parodi terhadap kisah kitab suci, dongeng perwayangan, kehidupan panggung, pemandangan sehari hari, dan pengalaman masa kecil, Sapardi menjadikan puisi bukan lagi sekadar bentuk, tapi kualitas, sukma, dan bahkan cara memandang dunia.

Bila pada masa berikutnya Sapardi menulis lagi puisi lirik tapi dengan bahasa yang jauh lebih sederhana, katakanlah bahasa sehari hari, maka itulah upayanya untuk menarik pembaca kembali sebagai penghasil makna yang aktif. Ada komunikasi sejati yang ingin dibangunnya agar si pembaca mencari kata 11 yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu," sebab selama ini pembaca hanyalah konsumen yang terjajah oleh parnflet, berita, pidato, dan Man. Demikianlah kita membaca kumpulan puisinya SihirHujan (1984), Hujan Bulan Juni (1994), Ayat ayat Api (2000), dan Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro? (2002).

Sementara cerita cerita mahapendek Sapardi yang dikumpulkannya dalam Pengarang Telah Matf (2001) dan Membunuh Orang Gila (2003) dapat kita pandang sebagai kelanjutan puisi prosanya. Tapi bila di sini anekdot menjadi lebih terang benderang, ini hanya berarti bahwa Sapardi pun menjadi altematif yang tajam bagi para pengarang Indonesia yang berlarat larat dengan tokoh, latar, alur, dan isi seni.

Karir sastra Sapardi Djoko Damono menunjukkan bahwa seorang pencipta. dapat mengolah sumber sumber budaya asal dengan sebaik baiknya hanya apabila ia dengan bebas dan rileks menjelajahi dan menyerap pelbagai lingkungan budaya yang lain. Kesetiaan penyair yang juga dosen dan penerjemah ini membuktikan bahwa sastra. Indonesia bisa berdiri kokoh apabila cakrawalanya menyambung ke khazanah sastra. dunia. Demikianlah kebebasan berkreasi berarti kesetiaan terhadap sastra sekaligus penolakan terhadap fundamentalisme kebudayaan sendiri. Para pengamat yang jitu akan mudah mengenali "kompleks gaya Sapardi"

DJOKO DAMONO dalam khazanah sastra. kita: diksi yang mernbentuk pencitraan visual yang kuat, disiptin bentuk yang mengandung rumpang sekaligus rima dalam puisi lirik, dan anekdot yang penuh lompatan rasa dan pikiran dalam puisi prosa. Inilah "kompleks gaya" yang niscaya mesti dipelajari sebagai sejenis dasar perpuisian oleh para penyair yang datang kemudian atau mesti dilawan, agar mereka beroleh gaya pengucapan sendiri. Penyair adalah ia yang bermain main dengan kata. Bila kata sudah begitu

ditaklukkan dalam kehidupan sehari hari, sekadar menjadi kendaraan bagi pesan dan ajaran yang kering kerontang, maka di tangan penyair Sapardi Djoko Damono kata kernbali sebagai organisme yang punya nalar dan nalurinya sendiri. Dengan ketrampilannya yang tinggi, permainan dengan kata pun dengan sehat berujung ke tata kata yang baru.

Kepenyairan adalah ketrampilan dan disiplin menghidupi bahasa. Demikianlah sang penyair bukan hanya mengubah cara pandang kita terhadap dunia, tapi juga mewujudkan dunia itu sendiri. Sapardi mengajak kita melaksanakan kebebasan dalam artinya yang asasi: melahirkan realitas baru dengan cara bermain main sekaligus bertarung dengan anasir kebudayaan yang paling hakiki, yakni bahasa. Sapardi

Djoko Damono, karena itu, pantas menerima Penghargaan Achmad Bakrie 2003 untuk Kesusastraan.

Epistemologle dan Krifik Kebudayaan
IGNAS KLEDEN adalah penulis dengan minat yang besar di bidang sosial budaya yang sejak dekade 70 an banyak bergulat dengan dua hal pokok: menjalankan kritik epistemologis terhadap ihnu ilmu sosial dan melakukan kritik terhadap terhadap kebudayaan dengan memakai perspektif ilmu ilmu sosial. la juga adalah seorang esais pemikir yang menyampaikan pikirannya dengan menelaah karya dan pemikiran sejumlah intelektual dan sastrawan terkemuka, mulai Soedjatmoko hingga Goenawan Moharnad, dari Pramoedya Ananta Toer hingga Joko Pinurbo. Di sarnping itu, Ignas adalah seorang kolumnis yang selalu tergerak untuk menanggapi pelbagai peristiwa dan isu sosial politik konternporer Indonesia, tidak dengan menampilkan sudut pandang yang ilmiah dan berjarak, melainkan sudut pandang yang menekankan empati subjektif terhadap pokok persoalan.

Esai esainya yang banyak dimuat di majalah Plisma dan juga terekam dalarn bukunya sikap ilmiah dan Kritik Kebudayaan (LP3ES, 1988) secara jelas menunjukkan surnbangannya yang sangat berarti dalarn bidang krifik epistemologis terhadap ilmu sosial.

Yang menjadi fokus utarnanya bukanlah bagaimana mengoperasionalisasikan. suatu teori dan pernikiran sosial tertentu dan bagaimana agar output dari operasionalisasi tersebut bisa relevan dan berguna untuk masyarakat luas, melainkan bagairnana.

menguji landasan episternologis dari pernikiran sosial tersebut dengan cara merneriksa secara krifis klairn kesahihan (validity claim) dari pernikiran tersebut, yang biasanya hanya diandaikan begitu saja secara taken for granted.

Menurut Ignas Kleden, hasrat yang menggebu untuk memenuhi relevansi sosial dari suatu kerja ilmiah tapi tanpa disertai upaya yang sungguh sungguh untuk melembagakan suatu tradisi krifik epistemologis yang bersifat otonorn justru akan merugikan kehidupan sosial karena pernikiran yang tidak teruji dapat saja meluas secara leluasa. Karena itulah dalarn pandangannya, kalau kita hendak mengembangkan ilmu pengetahuan, pada saat yang sama kita juga harus memperkokoh tradisi krifik epitemologis dan menjadikannya ranah yang otonorn dari tuntutan relevansi sosial.

la berpendapat, kalau kita mau mengernbangkan ilmu sosial di Indonesia, kita fidak bisa hanya berkutat pada ilmu terapan dan riset kebijakan saja melainkan juga harus menumbuhkan kornunitas intelektual yang terus menerus mengernbangkan dunia epistemologis yang otonorn, tanpa perlu takut dicap "elifis" atau "menara gading".

Kalau kita melihat latar belakang disiplin dari mana ia bertolak, ia pada dasarnya adalah sorang filosof, atau sekurang kurangnya berlatar akadernis filsafat.

Akan tetapi, pusat perhatiannya selama ini bukanlah terutama disiplin filsafat. Bentuk tulisannya pun fidak bisa dikategorikan sebagai traktat filsafat yang kering, melainkan esai.

Dalarn menulis, ia banyak menggunakan bentuk esai karena dengan. itu ia merasa lebih mendapatkan orisinalitas dalarn berekspresi. Dalarn satu esainya di Prisma (1988), ia menyatakan: "Berbeda dengan ilmu dan filsafat yang berpretensi menjadi tertib dan berdisiplin, maka esai adalah tulisan yang nakal dan kocak. Ilmu dan filsafat berusaba untuk runtut dan. beralur, sementara esai sengaja meloncat loncat dan jenaka. Menulis ilmu dan filsafat adalah melakukan organisasi dan reorganisasi susunan vas atau bentuk tarnan.

Menulis esai adalah merangkai kembang liar yang dipetik sendiri di lereng bukit atau diambil dari tengah sernak belukar. Yang pertarna berpedornan pada rasionalitas manusia, yang kedua berpedoman pada kebebasan manusia. Kata kunci pada ilmu dan filsafat adalah 'penelitian kritis'. Kata kunci pada. esai adalah 'kesaksian yang simpatik'. Filsafat menguji ide berdasar rasionalitas, ilmu berdasar objektivitas dan esai berdasar orisinalitas."Ignas Kleden tidak hanya dikenal sebagai esais dan kolumnis sosial polifik. Ia juga adalah kritikus sastra, seperti terlihat dalarn esai esainya tentang para penyair dan novelis Indonesia, yang dikurnpulkan dalarn buku Sastra Indonesia dan Saya (akan terbit).

Dengan esai esainya yang merupakan sumbangan penting bagi kritik sastra Indonesia, ia membuka mata kita bahwa kritik sastra. bisa diperkaya dengan perspektif filsafat dan ilmu sosial. Tapi menggunakan filsafat atau ilmu sosial untuk menelaah sastra tidak lantas menghasilkan analisis yang ruwet dan gelap; bukan pula suatu pernaksaan wacana yang bersifat ilmiah, analifis dan diskursif terhadap wacana yang mengutamakan orisinalitas, imajinasi dan kreativitas.

Esai esai sastranya adalah eksperimen penulisan kritik sastra yang menarik karena keberhasilannya menerapkan pernikiran filsafat dalarn mernbaca sastra, dengan tetap mempertahankan gaya penulisan yang jernih, argurnentatif dan rigorous. Atas dasar itu, Freedom Institute memilih Ignas Kleden sebagai penerima. Penghargaan Achmad Bakrie 2003 untuk bidang pernikiran sosial.

Author: administrator
Print PDF

Dengarkan

Freedom Audio

Kumpulan rekaman
audio dan diskusi Freedom Institute

BUKA PODCAST FREEDOM >>

Freedom Institute

Surat Berkala

Terima undangan dan berita terbaru Freedom Institute  

DAFTAR SURAT BERKALA >>

Baca

Buku Freedom

Temukan koleksi buku terbaru perpustakaan Freedom Institute

Cari disini >>

©2012 FREEDOM INSTITUTE. All rights reserved.

Google+